Jakarta, TopBusiness – PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) bakal mencari pendanaan dari pasar modal dengan menawarkan obligasi sebesar Rp 800 miliar. Aksi korporasi ini merupakan penerbitan tahap I dari rangkaian penerbitan obligasi Berkelanjutan I Bali Tower dengan jumlah pokok hingga Rp1,6 triliun.
Surat utang itu terbagi dalam dua seri, yaitu Seri A dan B dengan tenor masing-masing 3 tahun dan 5 tahun. Bunga obligasi akan dibayarkan setiap 3 bulan sejak tanggal emisi.
Adapun pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada tanggal 21 Februari 2020 dan masa penawaran umum obligasi akan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Februari 2020, sedangkan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 2 Maret 2020.
Obligasi ini mendapatkan peringkat A dari PT Fitch Ratings Indonesia. Emiten yang bergerak di sektor menara ini menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT Sinarmas Sekuritas, serta PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin pelaksana emisi efek (joint lead underwriters) dan PT Bank Bukopin Tbk sebagai Wali Amanat.
Direktur Mandiri Sekuritas Andy Bratamihardja mengatakan untuk obligasi seri A dengan tenor 3 tahun, BALI menawarkan kupon bunga minimal 9,2% sampai dengan 9,8%. Sedang seri B dengan tenor 5 tahun kupon bunga yang ditawarkan antara 9,7% hingga 10,3%.
“Nantinya dari dana itu, sekitar 80 persen akan digunakan untuk merestrukturisasi utang dan sisanya dipergunakan buat modal kerja,” kata dia di Jakarta, Kamis (30/1/2020).
Obligasi ini dijamin dengan aset berupa menara telekomunikasi milik BALI dan/atau entitas anak yang mencakup 100% dari total emisi obligasi. Selain itu juga pembayaran tunai oleh PT Indonesia Infrastructure Finance sebagai penanggung obligasi sebesar 50% dari pokok obligasi yang diterbitkan apabila terjadi kelalaian oleh Perseroan.
Di samping itu, BALI juga menyediakan penyisihan dana (sinking fund) untuk obligasi ini sebesar 1 periode pembayaran bunga.
BALI merupakan penyedia menara eksklusif untuk wilayah Badung, Bali, hingga 2027. Hingga 30 September 2019, perseroan memiliki lebih dari 3.600 menara yang tersebar di Bali, Jakarta, dan kota lainnya di pulau Jawa, dengan jumlah lebih dari 2.400 unit menara dalam status on-air dan telah terintegrasi (ready for service).
Adapun selama 2015-2018, perseroan telah membukukan peningkatan pendapatan dan EBITDA yang pesat, dengan pertumbuhan rata-rata (CAGR) per tahun masing-masing sebesar 40% dan 47%.
Ke depannya, BALI akan tetap fokus pada bisnis penyewaan menara dan infrastruktur telekomunikasi yang didukung oleh kontrak jangka panjang dari para operator telekomunikasi di Indonesia.
