TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Indef: Karena Infrastruktur Profitabilitas BUMN Tbk Kian Tergerus

Busthomi
25 March 2019 | 13:35
rubrik: BUMN
11 Tempat Istirahat di Tol Pejagan-Batang

Foto: BUMN Track

Jakarta, TopBusiness –  Kinerja BUMN yang melakukan pembangunan proyek infrastruktur ternyata membuat kondisi BUMN kian lemah. Hal ini dilihat dari profitabilitas perusahaan yang kian tertekan.

Menurut ekonom Indef, Sugiyono Madelan semula BUMN ditugasi membangun infastruktur itu diberi dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN), namun karena tak cukup maka BUMN tersebut akhirnya melakukan strategi utang.

“PMN yang semula Rp 64,9 triliun lalu turun menjadi Rp 50,5 triliun. Tapi di 2017/2018, PMN jauh berkurang. Makanya BUMN itu akhirnya berutang. Seperti BUMN Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, Kereta Api Indonesia. Dan utang yang besar dilakukan oleh PT PLN,” papar dia di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Dan begi BUMN yang Tbk, kata dia, seperti PTPP ternyata mengalami profitabilitas perusahaan yang tertekan. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) turun.

“Dan likuiditas (sebagai Tbk) tidak dilaporkan secara gamblang, kalau dilihat lebih terinci terkesan ada masalah likuiditas dimana utang lancar meningkat tajam dibandingkan aset lancar,” katanya.

Selanjutnya, Payout Ratio juga turun. Artinya perusahaan menjadi lebih mengutamakan ekspansi. Dan risiko yang menggunakan indikator yield menunjukkan meningkat.

“Dalam hal ini terjadi paradoks, yang seharusnya penugasan infrastruktur berdampak positif terhadap kinerja keuangan BUMN, yang terjadi malah sebaliknya,” kritik dia.

Dia menegaakan, apa yang terjadi pada PT PP juga terjadi pada WIKA, WSKT, ADHI, yang sama-sama kinerja keuangannya teetekan.

“BUMN Adhi Karya (Persero) Tbk juga tertekan profitabilitasnya (ROA dan ROE). Juga tidak menuliskan rasio likuiditas sebagaimana contoh kedua BUMN sebelumnya,” tegas Sugi.

Sementara untuk PT Jasa Marga Tbk juga sama. JSMR memang melaporkan likuiditas current ratio (CR), namun CR menurun. Artinya Jasa Marga juga menaikkan utang lancarnya. Utang lancar tersebut mulai mengurangi likuiditas perusahaan tersebut.

BACA JUGA:   Jaga Kualitas Layanan Nasabah, Penyesuaian Tarif ATM Link Milik Himbara Resmi per 1 Juni

“Seharusnya Jasa Marga lebih berbahagia, namun profitabilitasnya (ROA dan ROE) ternyata juga menurun. Itulah contoh dampak kebijakan penugasan pemerintah yang menekan kinerja keuangan BUMN,” kecam dia.

Tags: bumninfrastruktur
Previous Post

Obligasi SMF Oversubscribe Rp 3 Triliun

Next Post

Obligasi SMF Rp 2,5 T untuk Genjot KPR dan Refinancing

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR