Jakarta, TopBusiness—Direktur SMF, Trisnadi Yulrisman, mengatakan di Jakarta pada hari ini bahwa pihaknya terus menjajaki kerja sama dengan perusahaan sekuritas lain, untuk memasarkan EBA (Efek Beragun Aset) ritel, yang mulai dipasarkan tahun 2018 kemarin. Sebelumnya, SMF sudah bekerja sama untuk hal tersebut dengan sebuah perusahaan sekuritas, yakni BNI Sekuritas.
Dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top GRC 2019 (sebuah ajang penghargaan yang digelar Majalah TopBusiness), Trisnadi mengatakan bahwa untuk kerja sama itu, yang dipilih adalah perusahaan sekuritas yang punya sistem untuk surat berharga fixed income. “Dan BNI Sekuritas sudah punya sistem untuk itu,” ucap dia.
Lantas, Trisnadi menjelaskan bahwa SMF telah melepaskan EBA senilai Rp 42 miliar ke pasar surat berharga. Itu dengan tingkat bunga 8,6%. Sedangkan tenornya 1,3 tahun.
Ada dijelaskan pula, peminat EBA ritel itu mayoritas investor ritel. Mereka membeli di kisaran harga Rp 100.000, dan seterusnya. “Di antara mereka ada yang coba-coba untuk investasi,” kata Trisnadi.
Satu-satunya Pembiayaan Sekunder
Trisnadi pun, dalam kesempatan itu, menjelaskan bahwa SMF merupakan satu-satunya perusahaan pembiayaan sekunder perumahan di Indonesia. “Sebenarnya, kalau ada kompetitor, kami senang-senang saja. Tetapi perlu diingat bahwa perusahaan pembiayaan sekunder peruamhan membutuhkan dana yang besar. Kalau swasta mau masuk, hal ini perlu dipikirkan,” dia menjelaskan.
Mengacu ke sejumlah negara, lembaga pembiayaan sekunder perumahan pun umumnya hanya ada satu. “Walau begitu, tidak menutup kemungkinan munculnya lembaga pembiayaan sekunder baru,” kata Trisnadi.
Adapun Corporate Secretary SMF, Bonai Subiakto, menjelaskan bahwa di awal beroperasinya SMF, fokusnya lebih kepada sekuritisasi aset KPR perbankan. Di kemudian hari, muncul pula aktivitas financing dari SMF. “Sebab, dulu itu, jumlah KPR yang disekuritisasi terbatas, maka aktivitas financing pun muncul,” kata Bonai.
(Adhito)
