Jakarta, TopBusiness – Founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies ( CENITS) Soni Fahruri, menyampaikan saat ini mulai terjadi disrupsi energi dengan adanya potensi munculnya mobil listrik, kendaraan berbahan bakar hidrogen, kebijakan pemanfaatan biodiesel (B20), dan lainnya. Apalagi di era revolusi industri 4.0, terjadi disrupsi energi sektor transportasi yang merupakan keniscayaa dengan terjadinya transisi dari BBM ke energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Soni menegaskan bahwa kami ingin sebagai sumber energi dari kendaraan listrik berbasis energi terbarukan. Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) bersumber dari Solar PV. Komponen terbesar dalam investasi adalah penyediaan lahan, hal ini bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan lahan kosong sepanjang jalan tol, atap gedung, atau atap rumah. Jadi seolah-olah investasi lahan menjadi nol.
“Kami juga mengingatkan terhadap komitmen terhadap bauran energi sebesar 23% di tahun 2025, oleh karena itu kami mendorong Pemerintah secara serius memberikan insentif untuk energi terbarukan,” ujar Soni dalam keterangan persnya seperti ditulis, Kamis (25/4/2019).
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Institut Teknologi Surabaya ( ITS) PWJR berpendapat bahwa di era saat ini, yakni dengan semakin baiknya sektor moda transportasi massal tentu membuka pilihan bagi masyarakat terhadap pilihan transportasi bagi aktifitas kesehariannya. Dengan adanya proyek MRT merupakan pengalaman saya memperoleh kepercayaan bagi perusahaan yang saya pimpin untuk terlibat dalam pengerjaannya. Dan peluang bisnis masih terbuka sangat lebar di sektor transportasi ini.
Demikian pula ditegaskan Advisor CENITS Danang Wahyu Widodo yang menyampaikan potensi terjadinya disrupsi energi di sektor transportasi merupakan sebuah keniscayaan dan ini merupakan peluang bisnis baru untuk dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Penduduk Indonesia yang besar merupakan market yang menjadi incaran produsen mobil di dunia. Khusus untuk kendaraan listrik berjenis BEV (Full Electric Battery) produsennya adalah Mitsubishi, Nissan, BMW, Tesla, Chevrolet dan Wuling.
Danang mengingatkan bahwa untuk kondisi di Indonesia, perlu adanya payung hukum yang kuat, berwawasan lingkungan dan sekaligus membangkitkan potensi sumber daya nasional.
Vice President PT. PLN (Persero) Dr. Zainal Arifin menjelaskan PLN sudah terlibat dalam penyediaan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) Kendaran Listrik pada forum APEC tahun 2013 di Bali. SPLU PLN untuk mobil listrik sudah siap untuk diproduksi secara massal dan beberapa prototype sudah tersedia di lingkungan PT PLN (Persero).
Lebih lanjut Zainal memaparkan PLN juga sudah menyiapkan SPLU untuk sepeda motor listrik dan UMKM yang saat ini jumlahnua sudah mencapai 1500 unit dan tersebar di Jakarta Raya. Strategi PLN dalam penyediaan tenaga listrik untuk mobil listrik di Indonesia adalah dengan memberikan diskon tatkala melakukan pengisian kendaraan listrik pada pukul 22.00 hingga 05.00. Dan memberikan insentif bagi pemilik kendaraan listrik yang melakukan pengisian di rumah, serta sedang mengembang model bisnis kerjasama dalam penyediaan stasiun pengisian listrik umum (SPLU).
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Kementerian ESDM RI-Bapak Agus Cahyono Adi (ACA) menyampaikan bahwa Industri kendaraan listrik masih perlu banyak yang dibenahi dalam memenuhi pangsa pasar di Indonesia. Saat ini, Pemerintah sedang menyiapkan Perpres yang akan dapat djadikan payung hukum dalam pengembangan kendaraan listrik. Dan tentu kami berharap dengan adanya perpres yang sedang kami siapkan akan mampu terjadinya percepatan dalam pengembangan kendaaran listrik. Kami tegaskan bahwa kendaraan listrik ini merupakan sebuah keniscayaan, yang akan menjadi kendaraan di masa mendatang.
Tentunya Focus Group Discussion (FGD) yang digagas oleh CENITS dalam rangka Mencari Solusi Energi Sektor Transportasi di Era Revolusi Industri 4.0. akan menjadi bahan masukan kepada pihak pemerintahan baru nantinya.
Penulis: Albarsyah
