Jakarta, TopBusiness – Direktur Compliance & Risiko PT Bank Dinar Indonesia Tbk Idham Azis menegaskan, dengan tata kelola yang baik dan benar serta dapat pula memitigasi serta mengelola potensi risiko bisnis perbankan ini membuat Bank Dinar menuai sukses.
“Bank Dinar ini merupakan hasil akuisisi dari Bank Liman. Dari perjalanannya Bank Dinar ini pada tahun 2011 lalu sudah hampir kolaps dan akan ditutup. Akan tetapi dengan penerapan tata kelola perusahaan baik dan benar serta dapat pula mengelola risiko bisnis dengan baik dan cermat, selama empat tahun, tepatnya 2015 justru lompatan kinerja bisnisnya sangatlah kinclong. Pada tahun 2014, Bank Dinar berhasil menjadi perusahaan perbankan yang melakukan penjualan sahamnya di Bursa Saham dan menjadi perusahaan terbuka, milik publik,” ujar Idham Azis dalam penjurian Top Governance Risk Compliance (GRC) yang diselengarakan majalah bergensi Top Business di Jakarta, kemarin.
Idham melanjutkan lagi, kinerja tata kelola baik dan benar ini pun menjadi daya tarik bagi APRO, sebuah perusahaan group investasi asal negeri Ginseng Korea Selatan. APRO mengakuisisi Bank Dinar ini. APRO yang sudah memiliki memiliki Bank OKE ini akhirnya mengakuisisi Bank Dinar.
“Akan tetapi setelah dilakukan akusisi nantinya brand Bank Dinar akan tetap berkibar. Jadi dua management bank Dinar dan Bank OKE akan melebur jadi satu,” tegas Idham, bankir yang pernah berkarier di Bank BNI.
Kinerja Bank Dinar pada tahun 2018 dengan total Asset sebesar Rp 2,534 triliun, dengan capaian laba bersih Rp 19,225 miliar.
Berdasarkan penilaian terhadap kualitas penerapan manajemen risiko (KPMR) dengan kondisi resiko melekat dan kualitas penerapan manajemen resiko maka Bank Dinar ini pada index penilain di angka dua atau low to moderate.
Penulis: Albarsyah
