Jakarta, TopBusiness – Guna membiayai kegiatan operasional dan ekspansi bisnis perseroan tahun ini, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 7 triliun.
Belanja modal tersebut untuk kebutuhan empat divisi utama dengan rincian Rp 3,9 triliun untuk ICBP, Rp 1,4 triliun untuk Bogasari, Rp 1,9 triliun untuk agribisnis serta divisi distribusi Rp 200 miliar.
Angka belanja modal tersebut lebih rendah dibandingkan capex tahun lalu yang sebesar Rp 9 triliun.
Direktur INDF, Thomas Tjie menjelaskan, sumber pendanaan belanja moda tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman bank. “Sumber pendanaan dari cash generated operation dan bank loan,” ujar Thomas kepada media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Indofood Tower, Jakarta, Rabu (29/5/2019).
Thomas juga mengungapkan, Indofood tahun ini menargetkan kinerja tahun ini , baik untuk pendapatan maupun laba bersih bias tumbuh single digit di level atas (berkisar 8-9 persen). Sepanjang 2018 lalu , Indoffod mencetak penjualan dan laba bersih masing-masing sebesar Rp 73,39 triliun dan Rp 4,17 triliun.
Tak Terpengaruh Perang Dagang
Terkait dampak perang dagang yang memanas antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim memastikan itu tak akan mempengaruhi ekspansi bisnis makanan dan minuman di Indonesia. Pasalnya, Indofood masih bisa memperluas pasar eskpor ke Timur Tengah dan Afrika.
“Saya enggak gitu worry dengan trade war. Kita bisa ke Middle East, ke Afrika kan enggak ketemu trade war, pasar ada saja,” ujarnya.
Menurutnya, peluang merambah pasar luar negeri masih terbuka lebar, apalagi di benua Afrika sekitar satu miliar masyarakat di wilayah tersebut. Sementara itu, pasar di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia juga masih menjadi incaran Indofood. Di samping terus memperdalam penetrasi pasar di dalam negeri.
“Pasar Indonesia saja belum terpenuhi,” kata Anthoni. (nrd)
