
Jakarta — Permintaan produk-produk petrokimia domestik diperkirakan meningkat seiring tren positif sektor manufaktur. Di situ, nilai pasar petrokimia Indonesia diperkirakan mencapai USD 30 miliar di tahun 2018. Demikian dikatakan oleh Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan, di Jakarta hari ini.
Karen, dalam keterangan pers, mengatakan bahwa kini produksi produk petrokimia di Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan industri hilir. “Sehingga, menyebabkan terjadinya impor dengan perkiraan nilai USD 5 miliar per tahun,” kata dia.
Terkait hal-hal itu, Pertamina dan PTT Global Public Company Limited (perusahaan Thailand) membentuk perusahaan patungan untuk kompleks petrokimia kelas dunia di Indonesia. Itu ditargetkan beroperasi secara komersial di tahun 2018. “Perusahaan itu ditargetkan dapat menguasai 30 persen pasar setelah beroperasi secara komersial,” kata Karen.
Sementara, dalam kata sambutan saat penandatanganan manufacturing joint venture – head of agreement antara Pertamina dan PTT Global, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina M. Afdal Bahrudin mengatakan: kerja sama antara dua perusahaan itu sudah tentu tidak mudah. Akan menemui banyak persoalan. ” Tapi kami meyakini bahwa Pertamina dan PTT Global akan bisa mengatasi hal itu,” kata dia.
Adapun Chief Executive Officer PTTGlobal Chemical Public Company Limited, Bowon Vongsinudom, mengatakan: “Kompleks petrokimia tersebut termasuk di dalamnya unit cracker dan bisnis hilir lainnya. Itu akan menghasilkan nilai tambah melalui berbagai sinergi dan integrasi bisnis pada lokasi yang akan dipilih untuk memastikan keekonomian dan daya saing proyek yang tinggi.” (DHIT)