Untuk itu, para Manajer Investasi (MI), seperti PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) optimis laju obligasi bakal positif hingga akhir 2019 ini.
Menurut Senior Portofolio Manager Fixed Income MAMI, Syuhada Arief, iklim positif pasar finansial yang sangat suportif itu telah menopang kondisi market Bond di dalam negeri yang menghijau. Baik itu sentimen global maupun makro ekonomi Indonesia dan situasi politik pasca pemilu yang mulai kondusif.
Dari sisi global, kebijakan The Fed mengarah lebih akomodatif. Ini tentu berpotensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7day Reverse Repo Rate) dan kenaikan peringkat kredit Indonesia dari S&P. Itu semua merupakan faktor-faktor positif bagi pasar obligasi Indonesia,” jelas dia di Jakarta, seperti dikutip Kamis (18/7/2019).
Selain itu, lanjut Syuhada, saat ini sekitar 29 persen dari obligasi di dunia (US$ 12,5 triliun) berada pada level imbal hasil negatif. Sehingga bisa memicu global yield hunt, karena investor akan mencari investasi yang masih menawarkan imbal hasil positif, seperti di Indonesia.
Dengan begitu, dia menyebutkan, pasar obligasi Indonesia dapat diuntungkan, lantaran obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang tinggi.
Kondisi makroekonomi kita juga suportif, tercermin dari nilai tukar rupiah yang bergerak stabil dan kondisi politik pasca pemilu juga sudah lebih tenang,” kata Syuhada.
Lebih jauh dia menegaskan, dengan adanya gabungan katalis positif tersebut akan menciptakan iklim kondusif bagi pasar obligasi domestik. “Kami memandang masih ada upside potential untuk pasar obligasi Indonesia ke depan,” pungkas Syuhada.
Penulis: Tomy
