Jakarta, TopBusiness—Di kuartal kedua tahun 2019, konsumen Indonesia masih termasuk yang teroptimis secara global atau masuk peringkat tiga besar. Di sisi lain, ada yang menarik.
“Yakni, tingkat kekuatiran akan resesi ekonomi, meningkat,” kata Direktur Pelaksana Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, di Jakarta kemarin sore, dalam paparan terbaru tentang Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) global.
Agus mengatakan, pada kuartal kedua itu, IKK Indonesia ada di 126 pp (poin persentase). Itu di peringkat ketiga global setelah India (138 pp), dan Filipina (126 pp).
“Untuk periode kuartal kedua 2018 sampai kuartal kedua 2019, IKK Indonesia bisa dikatakan stabil,” dia mengatakan.
Sementara itu, di kuartal kedua 2019, sebanyak 57% konsumen Indonesia menyatakan bahwa negara sedang keadaan resesi. Angka ini naik daripada di kuartal pertama 2019 yang hanya sebesar 51%.
“Angka 57% itu hampir sama dengan saat nilai tukar Rupiah ke USD mendekati Rp 15.000. Padahal, saat ini nilai tukar itu sudah membaik,” Agus menjelaskan.
Dia pun menambahkan, “Bisa saja, kenaikan menjadi 57% itu karena sentimen eksternal global. Angka pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) global yang direvisi, juga bisa memicu kekuatiran itu.”
Kekuatiran itu juga disebabkan dampak dari Pemilu (Pemilihan Umum 2019). Di sini, sebagian konsumen merasa bahwa keadaan pasca-Pemilu 2019 semakin tidak pasti.
“Tetapi, sekarang ini kondisinya sudah lebih cair, bukan? Kita sudah menyaksikan pertemuan antar-tokoh politik yang berseberangan. Jadi, kondisinya sudah cair sekalipun perbedaan pasti ada,” kata Agus.
Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa nantinya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pasti akan cermat dalam memilih menteri bidang ekonomi. Sebab pemilihan itu sangat menentukan kondisi perekonomian bangsa ke depan.
“Saya yakin, pemerintahan baru pasti sangat saksama dalam hal penentuan kabinet perekonomian. Karena ini kan hal vital,” kata dia.
(Adhito)
