Semester pertama 2019, performa Bank Jatim apik, seperti masa-masa sebelumnya. Sudah tentu, itu berkat manajerial yang bagus di bank tersebut. Bank tersebut belum lama ini meraih penghargaan Top BUMD 2019.
Performa Bank Jatim terus berkilau apik. Simaklah, untuk semester pertama 2019, bank yang berkantor pusat di Kota Pahlawan (Surabaya) itu memetik laba Rp 816,42 miliar. Itu berarti tumbuh 7,6% ketika dibandingkan semester yang sama di tahun 2018 (perbandingan tahunan/year on year).
Direktur Keuangan Bank Jatim, Ferdian Timur Satyagraha, mengatakan ke media massa bahwa kenaikan laba tersebut ditopang dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang tumbuh 11,15% ( menjadi Rp 1,97 triliun, dibandingkan semester I 2018 yang senilai Rp 1,77 triliun. “Untuk aset, kami sudah mencapai Rp 68,95 triliun, tumbuh 15,81% secara perbandingan tahunan,” kata dia.
Sudah tentu, kinerja keuangan yang mumpuni itu tidak lepas dari manajemen yang apik di Bank Jatim, bukan? Bagaimana persisnya manajerial di Bank Jatim akhir-akhir ini?
Dalam presentasinya untuk Dewan Juri Top BUMD 2019 belum lama ini, jajaran direksi Bank Jatim menjelaskan banyak hal. Antara lain, bahwa grand strategy yang dijalankan Bank Jatim, meliputi: People, Power of Business, dan Technology.
Dalam People, SDM sebagai HC (human capital) menjadi kunci utama dalam pengembangan Bank Jatim. Di sini, Bank Jatim punya sistem penilaian, penempatan, dan jenjang karir. Semua itu terintegrasi, berbasiskan kompetensi, dan berbasis teknologi tepat guna. Ada pula pengelolaan dana pensiun untuk kesehatan dan kesejahteraan para pensiunan.
Di dalam Power of Business, Bank Jatim memaksimalkan sumber daya yang ada. Hal itu dari sisi funding/lending, organisasi, produk, BPP/SOP yang up to date, dan manajemen risiko. Walhasil, terciptalah Bank Jatim yang sehat, berhati-hati, serta patuh terhadap aturan yang ada.
Di Technology, Bank Jatim memanfaatkan TI (teknologi informasi) yang berdaya guna, aman, dan dapat diandalkan, untuk memudahkan pekerjaan. Juga, untuk memberi layanan terbaik bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Dengan demikian, Bank Jatim bisa memberikan laba yang optimal melalui efisiensi dan efektifitas.
Bank Jatim pun intensif memberdayakan masyarakat kecil melalui kredit kepada UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah). Bank tersebut melakukan strategi mengurangi peran rentenir. Di sini, ada edukasi terkait modal dari perbankan yang lebih fleksibel dan berbunga lebih murah; menyosialisasikan produk kredit UMKM Bank Jatim; bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur untuk memberi akses kredit dengan tingkat bunga yang lebih bersaing.
Jumlah debitur UMKM di tahun 2018 naik daripada di tahun 2017. Tahun 2018, jumlah debitur UMKM di 50.988 sedangkan tahun 2017 masih di 47.685. Jadi, ada peningkatan jumlah debitur sebesar 6,93%.
Dari nilai outstanding kredit di periode yang sama, ada peningkatan sebesar 7,53%. Rincinya, tahun 2018, kredit untuk UMKM sebesar Rp 6,87 triliun; tahun 2017, nilai itu di Rp 6,39 triliun.
Kontribusi Ekonomi Daerah
Dalam peran-kontribusi pembangunan ekonomi Jawa Timur, Bank Jatim mencakup sejumlah hal. Misalnya, dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Bank Jatim punya loan agreement yang ditujukan kepada UMKM sektor primer dan sekunder. Hal ini untuk memerkuat perekonomian UMKM di Jawa Timur serta sebagai salah satu penggerak roda perekonomian.
Dengan Dinas Perindustrian Jawa Timur, ada sejumlah kerja sama. Satu di antara itu adalah optimalisasi kantor perwakilan dagang sebagai fasilitator business to business (B to B) dan liaison officer. Termasuk untuk fungsi promosi pariwisata.
Selanjutnya, ada kesinambungan dalam pengembangan HC (human capital) di Bank Jatim.
Bagi Dewan Juri Top BUMD 2019, Bank Jatim merupakan bank dengan performa nan apik. Walhasil, setelah melalui berbagai tahapan penilaian, ada beberapa penghargaan yang disematkan kepada Bank Jatim. Yakni: Top BUMD of The Year 2019; Top BUMD 2019 Best All Criteria 2019; Top BUMD BPD 2019; dan Top CEO BUMD 2019 yang diberikan kepada Direktur Utama Bank Jatim, R. Soeroso (saat tulisan ini diturunkan, R. Soeroso sudah mengakhiri masa jabatannya—red.).
Selanjutnya, penghargaan pun diberikan kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Penghargaan itu adalah: Top Pembina BUMD 2019.
Ferdian Timur Satyagraha, usai menerima penghargaan itu, mengatakan bahwa penghargaan itu menjadi penegasan bahwa pihaknya berkomitmen ikut meningkatkan pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan. “Kami pun berharap bahwa sinergi antara Bank Jatim dan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, terus terjalin baik demi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” kata Ferdian. (***)
