Home Ekonomi Article Indonesia Menuju Cashless Society

Indonesia Menuju Cashless Society

Foto: istimewa

TRANSAKSI dengan uang elektronik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data Bank Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan atas penggunaan uang elektronik. Pada periode Januari sampai dengan Juli 2019, telah dilakukan lebih dari 2,5 miliar transaksi uang elektronik dengan nominal sebesar Rp 29 miliar. Selain itu, nominal transaksi uang elektronik pada 2018 meningkat 74% dari nominal transaksi 2017. Menilik peningkatan yang pesat, mungkinkah Indonesia mewujudkan 100% masyarakat nontunai (cashless society)?

Transaksi Nontunai di Indonesia

Pada 2014, Bank Indonesia mencanangkan program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). GNNT diharapkan mendorong masyarakat, pemerintah, dan pelaku bisnis dalam menggunakan sarana pembayaran non-tunai yang lebih mudah, aman, dan efisien. Selain itu, GNNT dicanangkan sebagai salah satu persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Instrumen pembayaran nontunai di Indonesia kini telah semakin beragam. Selain kartu kredit dan kartu debit, cek, bilyet giro, nota debet, dan uang elektronik merupakan instrumen pembayaran nontunai yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Terdapat dua bentuk uang elektronik. Pertama, e-money, yakni uang elektronik berbasis kartu (chip based). Kedua, e-wallet, yaitu uang elektronik berbasis aplikasi (server based). Contoh e-money yang banyak digunakan masyarakat antara lain Flazz BCA, E-Money Mandiri, atau BRIZZI BRI. E-wallet pun semakin berkembang dan marak digunakan oleh masyarakat, misalnya T-Cash, OVO, Go-Pay, Dana, atau Sakuku.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik menyatakan terdapat dua jenis uang elektronik berdasarkan lingkup penyelenggaraannya, yaitu open loop dan closed loop. E-money bersifat universal (open loop), artinya dapat digunakan sebagai instrumen pembayaran kepada penjual yang bukan merupakan penerbit kartu. Contohnya, e-money yang diterbitkan oleh bank dapat digunakan sebagai pengganti tiket bus Transjakarta, tiket KRL, karcis tol, bahkan membayar parkir dan mengisi bahan bakar. E-money yang berjenis closed loop hanya dapat digunakan sebagai pembayaran kepada penerbit uang elektronik tersebut, misalnya Kartu Multri Trip KRL Jabodetabek.

Kelebihan Uang Elektronik

Keuntungan utama yang dapat diperoleh masyarakat melalui transaksi nontunai adalah kemudahan dan kecepatan dalam bertransaksi. Pembeli maupun penjual tidak perlu menyiapkan dan menghitung  uang tunai untuk membayar maupun sebagai kembalian. Selain itu, transaksi nontunai dapat menekan jumlah peredaran uang palsu.

Selanjutnya, transaksi nontunai terutama e-wallet banyak menawarkan promo untuk penggunanya. Tentunya ini menjadi daya tarik agar masyarakat mau memanfaatkan pembayaran melalui aplikasi tersebut. Transaksi nontunai dalam bentuk e-wallet juga dipandang lebih aman karena untuk penggunaannya perlu verifikasi khusus dari pengguna berupa PIN atau kata kunci.

Selain bermanfaat bagi masyarakat, transaksi nontunai juga bermanfaat bagi negara. Karena merupakan transaksi tercatat, negara dapat memonitor peredaran uang dengan lebih mudah dibandingkan dengan transaksi tunai. Selain itu, adanya uang elektronik mengurangi biaya cash handling Bank Indonesia.

Kekurangan Uang Elektronik

Adanya saldo mengendap pada e-money maupun e-wallet menjadi sisi negatif dari penggunaan uang elektronik. Pada e-money, terdapat saldo minimum per kartu yang tidak dapat digunakan oleh pemilik. Selain itu, sebelum dapat menggunakan e-money, pengguna harus mengeluarkan biaya untuk membeli kartu e-money terlebih dahulu.

Penggunaan uang elektronik yang mudah dan cepat menjadi pisau bermata dua bagi pengguna. Di satu sisi, ia mempermudah transaksi harian. Semua transaksi dapat dilakukan dengan cepat. Di sisi lain, kemudahan itu bila tidak diatur dengan baik, justru dapat menjadi sumber kebocoran anggaran pengguna uang elektronik. Pembayaran yang cenderung effortless membuat masyarakat kurang cermat dalam membelanjakan uang elektroniknya.

Transaksi Nontunai di Negara Lain

Forex Bonuses melakukan studi berjudul The World’s Most Cashless Countries pada tahun 2017. Terdapat enam parameter pengukuran negara dikatakan sebagai cashless country, yaitu jumlah kartu kredit per orang, jumlah kartu debit per orang, kartu dengan contactless functionality, pertumbuhan pembayaran nontunai dalam lima tahun terakhir, pembayaran dengan transaksi nontunai, serta masyarakat yang memahami metode pembayaran montunai yang dapat digunakan.

Hasilnya, Kanada menempati peringkat pertama di mana masing-masing masyarakat diperkirakan memiliki lebih dari dua kartu kredit. Swedia menempati peringkat kedua di mana 59% transaksi di negara tersebut dilaksanakan dalam metode nontunai. Selanjutnya, Inggris pada peringkat ketiga 47% masyarakatnya memahami opsi pembayaran nontunai yang dapat dilakukan melalui telepon genggamnya.

Mungkinkah RI Menjadi Cashless Society?

Meskipun persentase transaksi nontunai semakin meningkat, transaksi tunai masih mendominasi instrumen pembayaran di Indonesia. Seperti dikutip di berbagai media, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Onny Widjanarko menyatakan bahwa pembayaran dengan uang tunai di Indonesia per Desember 2018 berada pada angka 76 persen.

Transaksi nontunai menuntut kesiapan pemerintah sebagai regulator dan masyarakat sebagai pengguna layanan. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan memiliki andil besar dalam mendukung penggunaan transaksi nontunai. Tidak hanya mengatur fasilitas yang memudahkan, pemerintah juga harus membuat aturan terkait keamanannya.

Sebaliknya, masyarakat dengan latar belakang sosial budaya yang beragam menjadi tantangan tersendiri penyedia jasa uang elektronik. Masih ada kelompok yang cenderung resisten terhadap perubahan dan pergerakan menuju cashless society. Alasannya, terlanjur merasa nyaman dan aman menggunakan uang tunai untuk bertransaksi.

Penulis: Firda Hapsari, staf di Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here