Jakarta, TopBusiness – PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan kode saham WSKT, tengah menyelesaikan beberapa proyek strategis nasional (PSN) dengan skema Turnkey, dimana pembayaran akan diperoleh setelah proyek selesai dikerjakan.
Adapun proyek-proyek tersebut terdiri dari Jalan tol Trans Jawa, tol Trans Sumatera, transmisi Listrik di Sumatera, dan LRT Sumatera Selatan. Selain, melakukan pengembangan bisnis berupa investasi pada 18 ruas jalan tol di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Aktivitas tersebut membutuhkan pendanaan yang cukup besar.
Ditegaskan Director of Finance Waskita Karya, Haris Gunawan, pada acara ngopi pagi seputar BUMN di komplek Kementerian BUMN, Kamis (26/9), di Jakarta, total pinjaman perseroan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis. Sedangkan posisi gearing ratio per Juni 2019 sebesar 2,68 kali masih berada di bawah ambang batas (covenant) sebesar 3,00 kali. “Kami yakin dapat menjaga rasio ini ke 2.3 kali di akhir tahun 2019.” kata Haris.
Lanjut Haris, Waskita Karya akan menerima arus kas masuk sebesar Rp 40 triliun selama 2019. Angka tersebut terdiri atas pembayaran proyek turnkey Rp 26 triliun yang selesai di tahun 2019 dan Rp 14 triliun dari proyek konvensional dengan skema progress payment.
Sampai dengan saat ini, lanjut Haris, perseroan sudah menerima pembayaran sebesar Rp 13,1 triliun yaitu Rp 3,4 triliun dari proyek turnkey dan Rp 9,7 triliun dari proyek konvensional. Diantaranya, penerimaan dari proyek LRT Sumatera Selatan sebesar Rp 2,3 triliun pada awal September 2019. “Nilai tersebut di atas belum termasuk rencana penerimaan pengembalian dana talangan tanah dari LMAN. Kas masuk ini akan digunakan untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan juga untuk meningkatkan kapasitas pendanaan. Dan menurunkan posisi utang”, ucap Haris.
Direktur Operasi, Bambang Rianto menyatakan, Waskita Karya sebagai perusahaan konstruksi nasional dengan kinerja keuangan, manajerial serta daya dukung sumber daya manusia yang andal. Perseroan ini agar terus bisa bertumbuh dan menciptakan laba bagi stakeholder, maka harus menciptakan inovasi dengan bisnis baru serta melakukan terobosan besar untuk mengerjakan projek di dalam negeri serta pula berekspansi ke luar negeri. “Serta pula kedepannya perusahaan akan pula melakukan investasi diberbagai proyek negara dan swasta”, tegas Bambang.
“Kami juga sedang melakukan tender proyek kereta api ringan di negara Filipina, dimana proyek ini keterlibatan beberapa perusahaan BUMN lainnya, seperti, PT LEN, PT INKA. Dan tidak hanya itu saja, kita juga sedang melakukan tender pula di Bangladesh dan India untuk proyek kereta ringan pula”, tambah Bambang.
Lanjut Bambang lagi, pihaknya juga akan membangun proyek smelter di Konawe, Sulawesi Tengara. Dimana proyek ini akan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) berbasiskan hilirisasi barang tambang.
Sekilas tentang Waskita Karya. Perseroan berdiri pada tahun 1961 sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pada bulan Desember 2012 menjadi sebuah Perusahaan Publik dan tercatat sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham “WSKT”. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu kontraktor utama di Indonesia serta Pengembang Infrastruktur/Realti melalui pendirian anak usaha yaitu PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Waskita Toll Road, PT Waskita Karya Realty, dan PT Waskita Karya Infrastruktur.
albarsyah
