Jakarta, TopBusiness – Hingga penutupan perdagangan saham Kamis (03/10) ini, indeks harga saham gabungan atau IHSG tertekan sebanyak 16,9 poin, atau selaras 0,28 persen ke posisi 6.038,529. Investor masih mengkhawatirkan rilis data indeks manufaktur Amerika.
Investor tak ingin mencetak kerugian besar, seiring dengan sentimen negatif dari Amerika. Akhirnya, melepas saham-saham guna merealisasikan keuntungan atau capital gain. Apalagi, ekspektasi bakal terjadi pelemahan pada laporan kuartal III perusahaan-perusahaan di negara Paman Sam tersebut.
Sepanjang perdagangan hari ini, indeks komposit Jakarta itu tak menyentuh zona hijau. Selang beberapa waktu pasca-pembukaan pasar saham, indeks masih turun 12,19 poin (0,2 persen) ke level 6.126,06 dan melemah 33,49 poin (0,55 persen) ke poisi 6.104,76 di jam 11.38 WIB. Pada penutupan perdagangan sesi I (siang), IHSG terkoreksi 31,55 poin (0,51 persen) ke level 6.106,70. Kondisi itu tak berubah saat pergerakan IHSG di sesi II. Bahkan, terkoreksi hingga 69,65 poin (1,13 persen) ke level 6.068,60 menjelang penutupan perdagangan.
Pelemahan bursa saham Jakarta tak sendirian. Sejumlah bursa utama kawasan Asia pun mengalami tekanan. Seperti, di Bursa Efek Filiphina dengan indeks PSE terkoreksi 65,13 poin (0,86 persen) ke posisi 7.545,55 dan ASX 200 di Bursa Saham Australia 149,90 poin (2,21 persen) ke posisi 6.493,00.
Di pasar reguler transaksi perdagangan berlangsung marak sebab volume mencapai 16.385.077.198 unit dengan frekuensi 507.293, senilai Rp 8,427 triliun. Sejumlah harga saham mengalami kehilangan poin, seperti, PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) Rp 70 ke posisi Rp 2.100, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 125 ke posisi Rp 6.400 dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) Rp 550 ke posisi Rp 5.200 per unit saham.
Penulis: Agus H
