
Jakarta, businessnews.id — Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo memerkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2014 kembali berada di angka 5,1 persen. Hal ini tidak terlepas dari penurunan tingkat konsumsi rumah tangga.
“Bisa pula di bawah itu,” dia berkata di Jakarta (12/9/2014).
Menurut Agus, konsumsi rumah tangga melambat sementara konsumsi pemerintah ada peningkatan yang cukup baik. “Begitu pula dengan investasi,” kata mantan direktur utama PermataBank itu.
Terkait dengan normalisasi kebijakan The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat), kata Agus, Indonesia harus memersiapkan penguatan pengelolaan dana untuk mencegah terjadinya capital outflow.
“Tetap yang menjadi prioritas, pengelolaan dana yang mungkin akan tertarik kembali ke Amerika, jika Fed Rate naik,” tuturnya.
Agus mengatakan, menghadapi ancaman kenaikan suku bunga acuan di Amerika itu, yakni dengan memersiapkan ekonomi Indonesia untuk kuat, dan tetap menjaga agar menjadi prioritas bagi pengelolaan dana investasi.
BI pun tengah memersiapkan satu bauran kebijakan dengan penekanan di aspek makroprudential. Penekanan itu diharapkan memerkuat membuat daya tahan, membuat ekonomi makro moneter juga lebih siap tatkala kenaikan suku bunga di Amerika itu terjadi.
“Di samping itu, dengan memerkuat koordinasi kami dengan pemerintah,” kata Agus.
Sementara itu, Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyatakan, pihaknya tengah siaga dalam mengantisipasi fenomena arus balik modal asing. Sementara, saat yang sama, perbaikan fundamental ekonomi belum terlihat langkah nyatanya.
“Ancaman itu ada karena kan modal masuk Indonesia telah mencapai Rp 170 triliun dari awal tahun, sedangkan tahun depan akan ada kenaikan suku bunga di Amerika,” terang dia.
Sehingga kalau pemerintah belum mengerjakan pekerjaan rumah pembenahan fundamental ekonomi, bisa saja arus balik modal asing membuat keadaan tidak stabil, dan membuat pertumbuhan ekonomi makin tertekan. (Abdul Aziz)
Editor: Achmad Adhito