TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Beberapa Tantangan Disrupsi bagi Bisnis

Achmad Adhito
24 October 2019 | 08:56
rubrik: Business Info
Serunya Serbuan E-Commerce di Indonesia

Ilustrasi (Sumber: Istimewa)

Jakarta, TopBusiness—Disrupsi perkembangan teknologi khususnya digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pelaku bisnis. Harvard Business Review menjelaskan, bahwa berdasarkan kajian “The Transformation 20: The Top Global Companies Leading Strategic Transformations” oleh Innosight, sebuah perusahaan konsultan strategi, terdapat beberapa indikator yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku bisnis di era transformasi digital.

Demikian dijelaskan CEO DBS Group, Piyush Gupta, dalam keterangan pers yang diterima semalam oleh Majalah TopBusiness.

Indikator pertama, adalah pertumbuhan baru. Indikator ini dilihat dari kemampuan perusahaan dalam menciptakan produk, layanan, market, hingga model bisnis yang baru.

Kedua, reposisi inti bisnis. Dalam hal ini, tantangan selanjutnya adalah melakukan reposisi inti. Seberapa efektifkah perusahaan mengadaptasi inti bisnis tradisionalnya terhadap perubahan atau gangguan di pasarnya?

Melakukan reposisi inti bisnis memberikan kehidupan baru pada inovasi bisnis yang dilakukan. Dalam hal ini, DBS Group membuat transformasi strategis selama dasawarsa terakhir bersama dengan Netflix, Amazon, Microsoft, Tencent dan Alibaba. DBS Group mereposisi inti bisnisnya dengan melakukan transformasi dari bank regional tradisional menuju perusahaan platform digital global, berdasarkan atas visi berbasis budaya, untuk menjadi perusahaan rintisan dengan 27.000 karyawan.

Ketiga, keuangan. Tantangan yang terakhir adalah perusahaan perlu untuk membukukan kinerja keuangan dan pasar saham yang kuat. Tidak hanya itu saja, perusahaan juga harus membalikkan bisnisnya dari kerugian atau pertumbuhan yang lambat untuk kembali ke jalurnya.

“Indikator ini dapat dilihat dari pendapatan CAGR (tingkat pertumbuhan tahunan gabungan), profitabilitas, dan harga saham CAGR selama periode transformasi,” Gupta menjelaskan.

(Adhito)

BACA JUGA:   Mecare, Aplikasi Kesehatan Solusi Pengganti Go Life
Tags: dbs groupdisrupsi digital
Previous Post

Ruang Ritel Jakarta Masih Berkembang

Next Post

Terjadi Lonjakan Harga Minyak

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR