TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

OJK Klaim Stabilitas Jasa Keuangan masih Terjaga

Agus Haryanto
24 October 2019 | 09:12
rubrik: Capital Market
OJK Cabut Izin BPR Mega Karsa Mandiri

FOTO: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan hingga pekan keempat Oktober dalam kondisi terjaga di tengah perlambatan pertumbuhan perekonomian global.

Intermediasi sektor jasa keuangan tercatat membukukan perkembangan yang stabil dengan profil risiko yang terkendali.

Untuk itu OJK menilai, melemahnya indikator ekonomi utama yaitu indeks keyakinan konsumen, tingkat inflasi, purchasing manager index dan industrial production di negara ekonomi maju hingga perkembangan terakhir trade war dan brexit cukup positif mendorong aliran dana investor global masuk ke pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia.

“Pada bulan September 2019, investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp12,5 triliun di pasar keuangan domestik. Pasar SBN mencatatkan penguatan yield sebesar 8,0 bps mtd dengan net buy investor nonresiden sebesar Rp19,8 triliun,” jelas Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK, Anto Prabowo, di Jakarta, Rabu (23/10/2019) malam.

Sementara itu, sejalan dengan pergerakan mayoritas pasar saham emerging markets di kawasan, IHSG mencatatkan pelemahan sebesar 2,5% mtm menjadi 6.169,1 dengan net sell investor nonresiden sebesar Rp7,23 triliun.

“Dan hingga18 Oktober 2019, pasar SBN mencatatkan perkembangan yang positif dengan penurunan yield sebesar 83,0 bps ytd, dan net buy investor nonresiden sebesar Rp145,4 triliun. Juga IHSG mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,04% ytd meski investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp49,3 triliun,” tutur dia.

Selain itu, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan masih tumbuh positif di bulan September 2019. Untuk kredit perbankan mencatat pertumbuhan sebesar 7,89% yoy, didorong oleh kredit investasiĀ  yang tetap tumbuh double digit di level 12,84% yoy.

Sementara itu, pertumbuhan piutang pembiayaan masih mengalami moderasi pertumbuhan di level 3,5% yoy. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan berada dalam tren meningkat sebesar 7,47% yoy, ditopang oleh pertumbuhan deposito sebesar 7,60% yoy.

BACA JUGA:   Dibuka Menguat, Tren Rupiah Masih Bergerak Sideways

Sementara itu, sepanjang Januari sampai September 2019, untuk asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp136,80 triliun dan Rp75,40 triliun.

“Dari pasar modal, penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp133,43 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut sebanyak 39 perusahaan dengan pipeline penawaran sebanyak 60 emiten dan total indikasi penawaran sebesar Rp48,14 triliun,” terang dia.

Berdasarkan data September 2019, lembaga jasa keuangan mampu menjaga profil risiko pada level yang manageable. Risiko kredit perbankan berada pada level yang rendah, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,66% (NPL net: 1,15%), walaupun mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Risiko nilai tukar perbankan berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 1,94%, jauh di bawah ambang batas ketentuan. Rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat relatif stabil di level 2,66%.

Likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 198,57% dan 92,20%, jauh di atas threshold. Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi.

Sedang Capital Adequacy Ratio perbankan perbankan sebesar 23,38%. Sejalan dengan itu, Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 321% dan 667%, jauh diatas ambang batas ketentuan.

OJK senantiasa memantau dinamika perkembangan ekonomi global dan berupaya memitigasi dampak kondisi yang tidak mendukung ini terhadap kinerja sektor jasa keuangan domestik terutama terkait dengan profil risiko likuiditas dan risiko kredit. “OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder untuk memitigasi ketidakpastian eksternal yang cukup tinggi, menjaga kontribusi sektor jasa keuangan dalam pembangunan, dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” pungkasnya.

BACA JUGA:   Hari Ini, Saham JSMR dan ISAT Rekomendasi Beli

 

Tomy Asyari

Previous Post

IHSG Bertambah 0,22 Persen

Next Post

WIR Group Punya 2 Petinggi Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR