
Jakarta, businessnews.id — Akhir semester I 2014, Bank QNB Kesawan mencatatkan LDR (loan to deposit ratio) sebesar 104,4 persen. Bank tersebut menargetkan, pada akhir tahun, LDR itu turun ke 95 persen melalui pencarian dana murah.
Menurut Direktur Bisnis Bank QNB Kesawan, Azar Abdul Wahab, di Jakarta (25/9/2014), kondisi likuidtas bank tersebut tertolong oleh dukungan pemegang saham pengendali yakni Qatar Nasional Bank .
“Namun, dibanding dengan Bank yang lain yang dimiliki asing, LDR kami tergolong yang paling rendah,” dia berkata.
Ia menambahkan, usaha untuk menurunkan LDR akan terus dilakukan melalui pencarian dana murah seperti penganekaragaman produk tabungan dan penambahan jaringan kantor.
“Kami harapkan, usaha ini dapat menurunkan LDR kami sampai ke angka 95 persen pada akhir tahun,” terang dia.
Sementara dari sisi kecukupan modal, di semester I 2014 ini, capital adequity ratio (CAR) QNB Kesawan tercatat 21,69 persen.
“Kami setiap tahun selalu melakukan aksi korporasi melalui right issue. Jika CAR telah mencapai belasan persen, kami akan melakukan right issue,” terang dia.
Pertambangan di Daftar Negatif
Dia menambahkan, sektor pertambangan masuk dalam daftar negatif penyaluran kredit korporasi. Sebab, larangan ekspor biji mentah dan merosotnya harga komoditas tambang masih berlangsung.
“Semua sektor kami masuki, namun hanya ada black list yakni pertambangan.”
Ia menambahkan, sebagai bank kategori BUKU II (bank umum kegiatan usaha II), pihaknya masih mengandalkan raihan pendapatan dari penyaluran kredit korporasi, sedangkan segmen UKM (usaha kecil menengah) masih minim.
Semester I 2014, QNB Kesawan telah mengucurkan kredit total Rp 10,7 triliun. Angka ini naik 31 persen dibandingkan akhir semester II 2013.
Langkah ekspansi itu disertai dengan perbaikan dalam proses kredit dan manajemen. Sedangkan NPL (non-performing loan) masih di angka 0,24 persen.
Sementara di sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK)tercatat Rp 10,30 triliun atau tumbuh 41,17 persen dibandingkan semester II 2013. “Untuk perolehan laba sebelum pajak tercatat Rp 14 miliar,” kata dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito