
Jakarta, businessnews.id — Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI ) akan terus meningkatkan jumlah investor ritel di pasar modal. Pasalnya, dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, hingga saat ini investor ritel baru mencapai 330.000.
Menurut Koordinator Komite Ketua Umum APEI, Susy Meliana, pasar Indonesia 40 persen dari pasar Asean. Maka, menjadi penting untuk memertahankan pasar dalam negeri. “Ibarat main bola, saat ini sebaiknya kita bertahan,” terang dia di Jakarta (2/10/2014).
Untuk itu, strategi memertahankan pasar domestik yakni melalui penambahan jumlah investor ritel dalam negeri.
”Kalau bisa, ya meningkat tiga kali lipat dari jumlah investor yang ada yakni 1 juta,” harap dia.
Untuk itu, maka mutlak ikut serta dalam proses sosialisasi yang diselenggarakan oleh SRO (self regulatory organization) dan meningkatkan jumlah pemasar yang memegang lisensi.
“Dan tentunya meningkatkan fee broker,” terang dia.
Terkait dengan fee broker, dalam berapa tahun belakangan ini cenderung menurun bahkan dianggap tak lagi bisa memenuhi biaya operasional perusahan efek.
Gambarannya, pada tahun 2005 fee broker masih di angka 0,35 persen. Namun saat ini bisa 0,15 persen, bahkan ada yang lebih rendah.
Dan pembagian untuk sales lebih besar: dulu masih besar ke perusahaan efek, kini lebih besar ke sales-nya. “Ini karena harus bersaing dengan sesama perusahaan efek lain,” terang dia.
Sebenarnya, pihaknya telah mengadakan kajian bekerja sama dengan LPEM UI; dalam waktu dekat, hasil kajian tersebut akan dirumuskan sebagai kebijakan APEI. Dan untuk selanjutnya menjadi bahan masukan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menetapkan fee broker.
”Karena ini menjadi faktor yang sangat penting, kalau fee-nya makin turun dan tidak bisa menutupi biaya operasi kami, ya buat apa,” terang dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz