
Jakarta, businessnews.id —– Bank Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) akan tetap fokus pada penyaluran kredit mikro maksimal Rp 500 juta, di saat bank besar banyak yang masuk ke sektor tersebut.
“Kami akan tetap fokus ke yang di bawah Rp 500 juta. Tidak masuk ke yang miliaran Rupiah seperti yang dilakukan BPR (bank perkreditan rakyat) lainnya. Dengan demikian, lebih aman dari goncangan kalau ada krisis,” kata Direktur Utama Bank Sleman, Muhammad Sigit, di Jakarta (7/10/2014).
Berbicara dalam penjurian Indonesia Human Capital Study 2014 yang diselenggarakan Dunamis dan BusinessNews Indonesia, Sigit menjelaskan: menghadapi persaingan, pihaknya menomorsatukan pendekatan ke nasabah.
Di situ, officer ataupun funding officer Bank Sleman telah disiapkan menghadapi persaingan tersebut.
“Dengan demikian, kami lebih mengenal nasabah daripada para pesaing termasuk bank besar,” dia menambahkan.
Melalui pengenalan mendalam tersebut, Bank Sleman bisa menang sungguhpun tingkat bunga yang dipasang bisa saja lebih mahal.
Proses penanganan nasabah kredit mikro berkarakter berbeda daripada nasabah bank umum. Perlu ada sejumlah hal yang perlu disesuaikan melalui pendekatan budaya, dan hal ini tidak dilakukan bank umum yang menggarap kredit mikro.
Contoh hal itu, untuk sertifikat tanah sebagai agunan kredit, Bank Sleman menerima yang masih atas nama keluarga. Bank umum tidak bisa melakukan hal ini.
“Ini adalah contoh pendekatan budaya yang kami lakukan ke nasabah kredit mikro.”
Penulis/Peliput: Achmad Adhito
Editor: Achmad Adhito