
Jakarta, businessnews.id — Lembaga pemeringkat efek internasional Standard and Poor’s menilai bahwa perusahaan papan atas Indonesia memiliki profil keuangan yang cukup kuat disaat kebijakan keuangan keuangan konservatif saat ini.
Menurut Analis Standard and Poor’s Xavier Jean (Jakarta, 9/10/2014), dari perusahaan- perusahan besar Indonesia yang diperingkat, terlihat bahwa dalam hal manajemen arus kas lebih bertahan. Itu bila dibandingkan dengan perusahaan dari Singapura, Thailand, dan Filipina.
“Mereka terlihat menjaga kas dalam jumlah besar sebagai bentuk antisipasi risiko sebagai dampak dari masih dangkalnya pasar keuangan di Indonesia dan bunga pinjaman yang tinggi.”
Sebagai gambarannya, dari 15 perusahaan papan atas Indonesia, 80 persennya tetap masuk dalam kategori peringkat layak investasi atau invesment grade level.
Itu dengan besaran pinjaman dari moderat hingga rendah, menjaga arus kas operasional, mengelola belanja perusahaan, dan mencadangkan dana kas dalam jumlah besar.
Hal ini berbeda dengan perusahaan di Singapura, Thailand, dan Filipina, di mana hanya 30-40 persen saja yang seperti itu.
Pihaknya juga memerkirakan, pertumbuhan utang perusahan Indonesia tadi hanya 15 persen selama tahun 2008 hingga kuartal pertama 2014.
“Pertumbuhan ini jauh di bawah angka pertumbuhan utang [perusahaan] Filipina sebesar tiga kali lipatnya, Singapura 2 kali lipatnya,” kata dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito