Jakarta, TopBusiness – Emiten produsen tepung dan pemanis PT Budi Starch dan Sweetener Tbk (BUDI) mengaku selama ini tak ada kompetitor berarti dari dalam negeri. Justru kinerja perseroan masih tertekan karena adanya serbuan produk tepuk impor. Hal ini membuat marjin profit atau laba BUDI sangat tipis. Sehingga dikeluhkan oleh banyak investor ritel.
Menurut Wakil Presiden Direktur BUDI, Sudarmo Tasmin, serbuan tepung impor lebih banyak datang dari Thailand dan Vietnam. Cuma masalahnya, karena adanya kerja sama perdagangan bebas di ASEAN atau ASEAN Free Trade Area (AFTA), maka produk dari kedua negara tersebut bebas masuk.
“Itu (produk tepung) tidak bisa kita larang. Sehingga pesaing kami memang dari impor. Kalau perusahaan tepung dalam negeri yang besar-besar saja kinerjanya tak sebaik kami. Kalau kita masih positif,” klaim dia saat acara public expose di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, ditulis Jumat (13/12/2019).
Dengan kondisi banjir tepung dari negara-negara tetangga tersebut, tercatat memang agak tipis dari sisi marjin labanya. Sekalipun dari sisi kinerja masih bertumbuh. Jika dilihat dari rasio laba tahun berjalan terhadap pendapatan (return on revenue) selama lima tahun ini memang bertumbuh tipis. Di 2015 sebesar 0,9%, kemudian menjadi 1,6% (2016), 1,8% (2017), 1,9% (2018), dan hingga kuartal III-2019 di angka 1,8% masih naik secara year on year (yoy) di tahun lalu sebesar 1,4%.
Hal yang sama juga terjadi pada rasio laba tahun berjalan terhadap ekuitas (return on equity/RoE) juga naik tipis. Bahkan mulai menurun saat ini. Dari 1,9% (2015), 3,3% (2016), 3,8% (2017), 4,1% (2018) dan sampai kuartal III-2019 di angka 3,3% atau naik tipis dari periode sebelumnya di angka 2,5% (yoy).
Kemudian untuk rasio laba tahun berjalan terhadap jumlah asset (return on asset/RoA) juga masih minim. Tercatat, di tahun 2015 sebesar 0,6%, lalu 1,3% (2016), 1,6% (2017), 1,5% (2018), dan saat ini di triwulan III-2019 di level 1,3% dari 0,9% secara yoy.
“Makanya kenapa marjin profit itu kecil karena kendala persaingan tadi (impor) dan kendala cuaca. Karena cuaca yang tak menentu membuat harga bahan baku yakni singkong lebih mahal jadi Rp1.200 per kg,” tuturnya.
Padahal, komponen biaya perseroan itu sebanyak 70% berasal dari bahan baku. “Kalau harga naik kami bisa kalah saing dengan impor. Permasalahannya riset dan pengembangan singkong di sini itu jarang dilakukan,” keluh dia.
Hingga kuartal III-2019 sendiri, segmen penjualan tepung tapioka berkontribusi atas pendapatan sampai 78% yakni sebesar Rp2,32 triliun. Jumlah itu naik dari realisasi tahun lalu sebesar 76% dari total pendapatan sebesar Rp2,06 triliun. Sementara segmen pemanis menyumbang penjualan sebesar 19% turun dari realisasi tahun lalu sebesar 21%.
Penulis: Tomy
