Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali bisa menguat seperti akhir pekan lalu. Hal ini dikarenakan masih adanya sentiment kesepakan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China serta sentiment positif dari dalam negeri.
Namun begitu, di sesi pagi rupiah masih lunglai, tak bertenaga. Mengutip Bloomberg, mata uang Merah Putih itu dibuka di posisi Rp13.995 per USD atau melemah 0,04% alias 5 poin dari penutupan sebelumnya di level 13.990 per USD. Dan dalam satu jam pertama, rupiah masih bergerak flat di tangga Rp 13.995 per USD.
Meski kondisinya seperti itu, menurut konom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede kesepakatan antara AS dan China terkait perang dagang tahap pertama ini dapat membawa optimisme kepada investor global.
“Dengan begitu, pasar keuangan Asia berpeluang mengalami apresiasi, termasuk juga dengan rupiah,” tandas Josua di Jakarta, Senin (16/12/2019).
Memang, kedua negara adidaya itu sudah menyepakati untuk adanya perundingan tahap pertam. Akan tetapi, belum ada kejelasan kapan waktu penandatanganan kesepakatan tersebut. Disebut-sebut, kedua negara masih harus menyelesaikan prosedur hukum di AS dan China.
Sehingga, rupiah pun kemudian akan bergantung terhadap sentiment domestik, seperti terkait pembahasan omnibus law dan neraca perdagangan yang akan dibacakan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini diprediksi bakal surplus.
“Jadi, kepastian pembahasan omnibus law yang dilakukan DPR memberi katalis positif bagi investor di sektor riil dan pasar modal. Itu angka mengakat laju rupiah. Ditambah, pengumuman neraca perdagangan yang bisa surplus akan menguatkan rupiah,” beber dia.
Dengan situasi seperti itu, maka Josua pun yakin nilai tukar mata uang Garuda tersebut bisa bereaksi positif di rentang teritori Rp13.950 per USD hingga Rp14.025 per USD.
Penulis: Tomy
