TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Gapensi dan Industri Rantai Pasok Ingin jadi Tuan Rumah Sendiri

Agus Haryanto
17 December 2019 | 09:08
rubrik: Ekonomi
Gapensi dan Industri Rantai Pasok Ingin jadi Tuan Rumah Sendiri

sumber: ekonomi.bisnis.com

Jakarta, TopBusiness – Gapensi beserta industri rantai pasok konstruksi dalam negeri melakukan sinergi bersama demi meningkatkan kehandalan, kualitas tenaga konstruksi serta industri rantai pasok dalam negeri sehingga bisa menjadi tuan di rumah sendiri.

Ketua   Umum   BPP  Gapensi  Iskandar  Z. Hartawi  ditemui di tengah-tengah acara road show Gapensi Goes To Campus di Politeknik Negeri Jakarta, kawasan kampus UI Depok, Senin (16/12) menyatakan, pihaknya mendukung kebangkitan industri nasional.

“Kita sebagai Gapensi, merupakan  asosiasi jasa konstruksi nasional terbesar dan tertua di Indonesia bahkan di Asean memiliki jaringan pengurus daerah di 34 propinsi dan pengurus cabang di lebih dari 512  kabupaten,   mempunyai   komitmen   kuat   untuk   ikut   mendukung   untuk   kebangkitan industri   konstruksi   nasional”,  tegas Iskandar kepada awak media dalam konperensi pers.

Iskandar melanjutkan, pihaknya akan menciptakan para pelaku konstruksi yang handal. “Tentunya kampuslah yang menjadi tolok ukur kami, karena di kampus inilah calon dan pelaku konstruksi  masa depan yang handal bisa diciptakan. Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri, jangan pula kita hanya menjadi penonton saja dalam melakukan rancang bangun di negeri ini”, lanjutnya.

Karena itu, pihaknya sebagai pengurus   pusat   dan   daerah   akan  road show  terus-menerus   ke   seluruh daerah  di 34 kota untuk mengkampanyekan secara masif  agar penggunaan material-material konstruksi produksi industri nasional  dalam proyek-proyek yang dikerjakan menjadi suatu keharusan, kampanye ini,  dikhususkan terlebih dahulu kepada anggota yang saat ini berjumlah lebih dari 32 ribu lebih perusahaan.

Gapensi  tidak hanya road show ke kampus untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) konstruksi yang handal, akan tetaoi juga melakukan sosialisasi kepada seluruh angota Gapensi di seluruh Indonesia agar mengunakan produk dalam negeri, baik dalam bentuk material, peralatan serta juga sumber daya manusia .

BACA JUGA:   RI Inflasi Tipis Oktober 2020

“Jadi  hampir setiap minggu kami harus berpindah-pindah dari BPD  satu ke BPD lainnya, dengan   mengajak industri-industri rantai pasok industri nasional baik BUMN maupun swasta nasional dan juga dari Kementerian Pekerjaan Umum  dan LKPJ (Lembaga Pengembangan  Jasa  Konstruksi Nasional)”, tegas Iskadar.

Informasi  di lapangan dari banyak anggota Gapensi, selalu saja harga termurah  yang menjadi   perkembangan dalam penentuan pemenang  tender-tender di proyek-proyek pemerintah.   Dengan maksud ingin harga semurah-murahnya,   inilah   yang   selalu   menjadi   masalah   di   dalam mendapatkan  kualitas konstruksi yang baik.

Sementara itu Ketua Umum  Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia ( Indonesian Society of Steel Construction- ISSC), Ken Pangestu menyatakan,  pihaknya sebagai pelaku  industri baja dalam negeri juga  sebagai mitra dengan pemerintah ini selalu bersama-sama dengan pemerintah mengawasi dengan sangat ketat terhadap kualitas produksi baja dalam negeri ini.

“Kami juga memberikan laporan kepada pemerintah jika banyak beredar  baja yang diluar standar mutu dan kualitas serta juga tidak memiliki standar mutu yang berlaku di Indonesia yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI). Lantas pula banyak pula beredar baja impor yang tidak berkualitas baik yang masuk di dalam negeri”, tegas Ken.

Dijelaskan Ken,  misalkan  dalam penyediaan besi beton,  kita semua pasti  mengenal   istlah besi banci,  dikatakan  besi  10  misalnya,  tapi   kenyataannya setelah   diukur   hanya  8 mm diameternya.   Ini   jelas tidak  sesuai SNI (Standar   NasionalIndonesia),  belum lagi  kualitas kekuatannya.

Saat ini di pasaran beredar begitu banyak besi-besi yang tidak jelas asal usulnya, dengan kualitas jauh di bawah standard SNI. Selain itu juga banyak sekali di pasaran jenis-jenis besi dari luar negeri yang  sebenarnya di industri nasional sendiri kita sudah mampu memproduksinya.   Tentunya kondisi ini   sangat memukul industri nasional  untuk bisa berkembang dengan baik.

BACA JUGA:   Sektor Nonmigas Dorong Surplus Neraca Perdagangan Mei 2024

Dari data asosiasi baja ini, ternyata kurang lebih 50% pemakaian besi nasional saat ini dipenuhi oleh produksi impor, sementara kapasitas rata-rata industri besi nasional terpakai baru sekitar  60% saja.  “Jika  kondisi ini terus berlanjut, makin sulit industri nasional berkembang dengan baik”,tegas Ken.

 

albarsyah

Previous Post

Sentimen Positif AS-Eropa akan Naikkan IHSG

Next Post

Di Bursa Berjangka, Harga Minyak Dunia Terangkat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR