Jakarta, TopBusiness – Produsen pakaian jadi, PT Pan Brothers Tbk atau PBRX mengaku tak ada masalah yang berarti terhadap kinerja bisnis terkait konflik dagang antara Amerika dan China.
Menurut Corporate Secretary Iswar Deni, perseroan menjalani bisnis secara normal, meski terjadi depresiasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika dan trade war Amerika dan China. Bahkan, lanjutnya, pelemahan kurs justru akan memperkecil biaya dalam denominasi rupiah, tapi ini hanya bersifat jangka pendek. Trade war bagi perseroan pun membuka peluang bagi Indonesia yang netral dan bisa menerima manfaat dari kondisi seperti itu.
“Komposisi ekspor ke Amerika Serikat sampai dengan September 2019 secara persentase naik signifikan menjadi 37,6 persen dari 25,5 persen di tahun 2018, (itu) membuktikan dampak positif dari US vs China trade war,” ungkapnya, di Jakarta, dalam materi update hasil paparan publik kepada topbusiness.id, Selasa (17/12).
Ditambahkannya, perseroan memiliki strategi bisnis dalam menghadapi gejolak di ekonomi global. “Konsep utama dari buyers/brands adalah growth together, jadi PBRX harus memiliki competitiveness, funding yang kuat dan sustainable. Ini yang menjadikan kami dipercaya dan semakin besar,” tuturnya.
Hingga September 2019, perseroan mencatat penjualan sebesar USD 491,9 juta, atau lebih tinggi 10,02 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebesar USD 447,1 juta. Penjualan PBRX 2019 didominasi oleh garment sebesar 94 persen yang juga mayoritas ekspor, sementara domestik berkisar 6 persen.
Perseroan pun akhirnya menargetkan tingkat penjualan. “Target penjualan 2019, kami proyeksikan meningkat antara 10-15 persen dari penjualan tahun 2018. Dan perkiraan kami realisasi antara USD 665 juta sampai dengan USD 675 juta,” ujarnya.
Untuk mendorong peningkatan kinerja operasional, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex). “Target capex untuk tahun 2019 didominasi oleh modernisasi mesin, otomatisasi, dan digitalisasi. Sampai dengan September 2019 total belanja capex sebesar USD 12,5 juta sampai akhir tahun mungkin bisa mencapai USD 13 sampai dengan 14 juta,” ujarnya.
Iswar Deni menyebut total anggaran capex tahun 2020. “Tahun 2020 dibudgetkan berkisar USD 15 juta. Maintenance capex memang dianggarkan antara USD 7-10 juta per tahun, yang juga digunakan, antara lain untuk modernisasi, otomatisasi dan mesin-mesin baru yang dibutuhkan R&D atau disesuaikan dengan kebutuhan design/style baru. Dana ini telah tersedia dan bersumber dari internal,” pungkasnya.
Penulis: Agus H
