
Jakarta, businessnews.id — Risiko kredit di sektor pertambangan masih menghantui perbankan nasional. Di suatu daerah, terdapat NPL (non performing loan) sektor pertambangan yang mencapai 10 persen.
Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, di Jakarta hari ini (13/11/2014), dari sisi risiko kredit terdapat peningkatan pada kuartal III 2014. Itu utamanya di sektor tranportasi pertambangan.
Namun demikian, secara industri perbankan nasional, NPL pada kuartal III 2014 masih di bawah ambang batas yakni di bawah 5 persen.
Sedangkan dari sisi pertumbuhan kredit perbankan nasional, kembali melambat pada kuartal III 2014.
Juga, terjadi perlambatan di mana untuk bank BUKU (bank umum kegiatan usaha) 4, juga terjadi perlambatan. Di sini, pertumbuhannya 10,4 persen.
Bank BUKU II sebesar 14,75 persen; bank Buku I tumbuh sebesar 19,1 persen.
“Namun, secara akhir tahun, kredit tumbuh di kisaran 12 persen sampai 14 persen,” dia berkata.
Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), terjadi pertumbuhan walau sedikit, yakni di angka 13 persen secara year on year ( YOY ).
“Dan diperkirakan, di tahun 2015 DPK tumbuh di kisaran 14 persen sampai 16 persen,” kata Halim.
LDR Membaik
Halim pun menjelaskan, rasio likuiditas perbankan pada September 2014 mulai menunjukkan perbaikan , yakni turun ke angka 88,93 persen. Adapun di Agustus 2014 sebesar 90,26 persen.
“Rasio LDR akan berada pada kisaran 89 persen sampai 90 persen pada akhir tahun 2014,” ucap dia.
Sedangkan pada tahun 2015, LDR diperkirakan di kisaran 89 persen sampai 90 persen. Dengan begitu, masih ada ruang untuk melakukan ekspansi kredit dan membantu program pemerintah membangun infrastruktur.
Sementara untuk rasio kecukupan modal (CAR/capital adequacy ratio) masih pada tingkatan tinggi yakni 19,40 persen.
“Jadi, jauh di atas batasan 8 persen,” Halim mengatakan.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito