Jakarta, TopBusiness – Presiden Jokowi meresmikan Terowongan Sungai Nanjung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/01). Hadir mendampingi Kepala Negara, antara lain, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Sosial Julian Batubara, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Bupati Bandung Dadang M. Nasser, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) Tumiyana, dan Direktur Operasi I Agung Budi Waskito.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa dengan beroperasinya Terowongan Sungai Nanjung ini, kelak akan mengurangi waktu dan area luasan genangan hingga 700 hektar, bilamana banjir melanda di daerah terdampak. “Alhamdulillah pembangunan Terowongan Nanjung yang menjadi bagian dari pengendalian banjir di cekungan Bandung sudah selesai,” ungkap Presiden melalui keterangan persnya.
Terowongan Sungai Nanjung dibangun Kementerian PUPR untuk penanganan luapain air Sungai Citarum yang kerap kali merendam ribuan hektar pemukiman warga, khususnya, Kota dan Kabupaten Bandung. Proyek ini memiliki dua terowongan masing-masing 230 meter dan diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas Sungai Citarum yang semula Q5 = 570 m³/s menjadi Q20 = 669 m³/s dan mengurangi total luas genangan air yang semula 3.461 hektar, menjadi 2.761 hektar.

WIKA-ADHI JO yang ditunjuk sebagai kontraktor pelaksana, melaksanakan pekerjaan dengan lingkup Pekerjaan Persiapan, Pekerjaan Dua Terowongan masing-masing panjang 230 meter, Pekerjaan Bangunan Inlet Hidromekanikal, Pekerjaan Bangunan Outlet (Sediment Trap), Pekerjaan Jalan Inpeksi hingga Pekerjaan Jembatan Rangka Baja sepanjang 81 meter dengan nilai kontrak Rp316,014 miliar.
Pembangunannya pun mengadopsi konsep penggalian (excavation) dengan NATM (New Austrian Tunneling Method) atau biasa disebut SEM (Sequential Excavation Method), sebuah penggalian terowongan yang dilakukan secara manual dan bertahap.

