Jakarta, TopBusiness – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi, produksi minyak sawit pada tahun 2020 ini bakal menurun akibat faktor kekeringan dan pengurangan pupuk pada tahun sebelumnya.
Meski BMKG memprediksi cuaca mendukung untuk tanaman sawit, ada sejumlah faktor pada tahun 2019 yang mempengaruhi produksi di tahun ini. Pertama adalah musim kering pada tahun lalu yang lebih panjang dari sebelumnya.
“Selain itu, kebakaran tahun lalu juga cukup menyibukan kita semua yang intensitasnya hampir seperti tahun 2015. Kekeringan ini bisa berdampak minimal 8 bulan sampai 1,5 tahun terhadap produksi berikutnya,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pada konferensi pers Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 di Jakarta, seperti dikutip Selasa (4/2/2020).
Selain itu, karena faktor finansial dengan rendahnya harga minyak sawit dunia pada dua tahun lalu, banyak petani yang mengurangi intensitas penggunaan pupuk. Dengan harga jual yang rendah, tidak menutup kemungkinan sejumlah petani mengurangi pupuk demi menutup biaya produksi.
“Akibat dari penggunaan pupuk yang rendah, produksi tandan buah segar (TBS) akan berkurang setidaknya 1,5 sampai 2 tahun ke depan. Di sisi lain, peremajaan atau replanting kebun sawit baru dilakukan pada 2018. Dampak dari peremajaan tersebut paling cepat terlihat setidaknya lima tahun sejak dilakukan peremajaan,” papar Joko.
Produksi minyak sawit Indonesia sepanjang 2019 mencapai 51,8 juta ton CPO atau meningkat sekitar 9 persen dari produksi tahun 2018 sebesar 47 juta ton. Produksi tersebut terdiri dari CPO (crude palm oil) sebanyak 47,18 juta dan PKO (palm kernel oil) sebesar 4,6 juta ton.
