CSR Sasa Konsisten Pemberdayaan UKM dan Perbaikan RTLH

Penulis Busthomi

Jakarta, TopBusiness – Perusahaan produsen penyedap makanan dengan merek Sasa, PT Sasa Inti dalam melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR) itu dengan fokus antara lain, melakukan pemberdayaan UKM dan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Untuk pemberdayaan UKM antara lain, PT Sasa Inti bekerja sama dengan UKM sekitar pabrik seperti kerajinan sapu dan alat kebersihan, bengkel sepeda, pembuat kue dan catering, itu untuk mensupply semua kebutuhan operasional pabrik, koperasi karyawan dan para karyawan lainnya.

“Jadi kita berada di posisi masyarakat bukan di kawasan pabrik di Probolinggo. Jadi semua kebutuhan pabrik kami memanfaatkan semua yang diproduksi UKM di sekitar pabrik,” kata Human Resource Head Sasa, Agus Sudarmono saat tanya-jawab dengan Dewan Juri Top CSR Award 2020 yang digelar Majalah TopBusiness di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Selain itu, pihak Sasa juga membina UKM dengan nama UKM Argend Meme. Ini pembinaan UKM yang awalnya hanya pembuatan kue kering rengginang singkong desa Gending, Probolinggo dengan merek ‘Meme’. Saat ini juga sudah mengembangkan produk usahanya dengan pembuatan manisan mangga, sirup mangga, minuman jeruk kemangi, telur asin asap.

“Saat ini pemasarannya selain melalui Kopkar Sasa Inti juga sudah dijumpai di Pusat oleh-oleh Probolinggo serta keluar daerah ini,” tegasnya.

Sementara untuk perbaikan RTLH, sejak 2017 lalu perseroan kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Probolinggo. Dan CSR ino telah memperbaiki 15 unit RTLH. “Pada 2017 lalu perbaikan 5 unit rumah RTLH di Kecamatan Pekuniran dan pada 2018-2019 lalu 10 unit di Kecamatan Gending,” kata dia.

Selain itu, adajuga CSR lain seperti ko servasi alam dan tebar benih ikan, pelatihan pembuatan biopori, konservasi alam dan tebar benih ikan, bingkisan lebaran dan hewan qurban, sentuhan Ramadhan Sasa, sahabat inspirasiku, penguji kompetensi, dan intenship.

“Untuk pelatihan pembuatan biopori itu perseroan bekerjasama dengan dinas lingkungan hidup memberi pelatihan dan pembagian peralatan pembuatan biopori kepada masyarakat, instansi, dan sekolah,” kata dia.

Selanjutnya perseroan juga melakukan edukasi kepada para Milenial dan ibu-ibu terkait manfaat MNG yang selama ini mindset MNG di masyarakat itu negatif. Padahal MNG itu, sebagai sumber rasa gurih alami, penyelaras rasa makanan, memperkuat rasa makanan, dan menambah kadar protein.

“Karena penggunaan MNG ini tetap baik. Selama sesuai takaran. Ini seperti garam dan gula. Jika berlebihan baru akan bahaya. Kita lakukan pelatihan dan edukasi kepada Milenial dan ibu-ibu, ke depan akan kita lakukan ke abang-abang penjual makanan,” jelas dia.

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya juga melakukannya terhadap karyawan perusahaan. Saat ini ada 1.400-an karyawan yang ada di Probolinggo, dengan 80 persen laki-laki.

“Itu kita ada tanggung jawab ke karyawan. Seperti program untuk keselamatan kerja. Dan jika ada shift tiga pulangnya akan ada jemputan. Dan di depan kantor sudah tertulis jelas soal pengumuman keselamatan kerja,” tegas dia.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar