73% CSR Intiland untuk Pemberdayaan Masyarakat

Penulis Nurdian Akhmad

Jakarta, TopBusiness – PT Intiland Development Tbk sebagai perusahaan properti terkemuka di Tanah Air memiliki komitmen tinggi untuk menjalankan dan mengembangkan program-program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Corporate Secretary PT Intiland Development Theresia Rustandi menjelaskan, perusahaan memiliki prinsip dasar CSR bahwa bisnis akan berkembang dengan baik jika masyarakat sekitar juga berkembang secara positif. Kebijakan ini diterapkan secara konsisten di setiap proyek yang dikembangkan oleh Intiland.

“Pada setiap proyek yang dikembangkan Intiland, ekonomi masyarakat berkembang dengan baik, kehidupan sosial yang saling mendukung dan kualitas lingkungan semakin baik,” kata Theresia dalam sesi Presentasi dan Wawancara Penjurian TOP CSR Awards 2020 di Gedung WTC, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Menurut Theresia, CSR merupakan bagian dari praktik tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). Dan, GCG sangat penting sebagai salah satu proses untuk menjaga kesinambungan perusahaan secara jangka panjang yang mengutamakan kepentingan seluruh pemangku kepentingan mengacu pada ISO 26000 dan  SDGs.

“Perusahaan berupaya agar setiap inisiatif CSR dapat membentuk atau menjadi bagian dari rantai pasok (supply chain) perusahaan sehingga dapat berpengaruh pada proses pengembangan bisnis,” kata dia.

Pada tahun 2018, perseroan mengalokasikan dana CSR sebesar Rp 2,14 miliar, atau 1,05% dari perolehan laba bersih 2018. Sedangkan pada  2017, Intilang mengalokasikan Rp 6,47 miliar (2,2% dari laba bersih). Pelaksanaan aktivitas CSR proyek sebagian besar atau 73,5% difokuskan pada pemberdayaan masyarakat melalui program sosial kemasyarakatan. Sedangkan 18% disalurkan untuk lingkungan, 6,5% untuk ketenagakerjaan dan sisanya (2%) disalurkan untuk tanggungjawab produk dan konsumen.

Menurut Theresa, perusahaan memiliki dua Program CSR unggulan, yakni Intesa School of Hospitality dan Intiland Teduh. Intesa School Hospitality merupakan program pendidikan untuk mencetak siswa yang siap bekerja di bidang hospitality. Sekolah yang didirikan pada 2013 ini berada di Kota Yogyakarta.

General Manager PT Intiland Prananda Herdiawan menambahkan, Intesa School hadir untuk menjawab dua permasalahan, yakni sulitnya mendapatkan pendidikan layak dan kurangnya lapangan pekerjaan yang bisa menjadi faktor penghambat masyarakat dalam menciptakan hidup yang lebih baik.  Kedua faktor ini bersifat saling mempengaruhi satu sama lain. “Kualitas pendidikan cenderung berbanding lurus dengan kondisi perekonomian masyarakat,“ kata Prananda kepada dewan juri.

Sejak didirikan hingga saat ini, Intesa School telah meluluskan sebanyak 177 siswa yang sudah bekerja di jaringan Hotel Intiwhiz dan banyak hotel di sekitar Yogyakarta dan di beberapa kota di Jawa dan luar Jawa. Selama menempuh pendidikan selama 12 bulan, para siswa mendapat beasiswa manfaat. “Kurikulum di Intesa School ini mengadopsi kurikulum Common ASEAN Tourism Curriculum (CATC),” ujar Prananda. 

Melalui Intesa School of Hospitality, perusahaan dapat mendorong dan meningkatkan keunggulan kompetitif dengan melakukan investasi di komunitas masyarakat setempat. Upaya ini sekaligus juga membantu program pemerintah dalam menurunkan jumlah angka pengangguran.

Untuk program Intiland Teduh, perseroan melaksanakan program pembangunan infrastruktur dan fasilitas bagi warga yang tinggal di sekitar proyek-proyek yang dikembangkan oleh Intiland. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memberikan bantuan perbaikan rumah sehat dan aman bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta fasilitas ‘Toilet Sehat Keluarga’ di rumah-rumah penduduk yang memiliki sanitasi buruk.

“Kami juga memberikan pelatihan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pelatihan konstruksi dasar rumah sehat dan aman. Program ini memberikan bantuan kepada 45 rumah, 1 MCK umum, 40 unit toilet sehat keluarga,” tutur Prananda.

Dalam melaksanakan Program Intiland Teduh ini, perusahaan berkolaborasi dengan Habitat for Humanity. Perseroan juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat dan penerima manfaat .“Kami juga melibatkan partisipasi aktif direksi dan karyawan sebagai volunteer,” kata Prananda.

Menurut Prananda, Program CSR tersebut sangat terkait dengan strategi bisnis perusahaan. Melalui inisiatif CSR ini para pemangku kepentingan mendapatkan manfaat dari pengembangan proyek-proyek Intiland. “Pelaksanaan program ini sekaligus merupakan salah satu upaya perusahaan untuk meminimalkan risiko terjadinya gejolak sosial dari masyarakat setempat yang mungkin timbul akibat proses pembangunan,” ujarnya

 Theresia Rustandi menambahkan, pendiri dan sekaligus presiden direktur Intiland Hendro S Gondokusumo memberikan dukungan penuh terhadap program-program CSR perusahaan. Hendro juga sekaligus adalah Ketua Dewan Pembina Intiland Foundation. Banyak ide dan inisiatif program CSR lahir dari pemikirannya.

Sebagai pendiri, kata Theresia, Hendro ingin Intiland menjadi seperti perusahaan-perusahaan besar di luar negeri yang sukses dan bertahan hingga ratusan tahun. Perusahaan tidak boleh hanya sekadar mencari keuntungan ekonomis semata, namun juga harus turut berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan, baik lingkungan hidup maupun sosial agar cita-cita tersebut dapat tercapai.

“Banyak program baru dan komitmen biaya langsung diputuskan oleh Beliau. Secara pribadi, Beliau adalah sosok philanthropist yang banyak memberikan bantuan langsung kepada masyarakat maupun organisasi atau lembaga yang memiliki nilai-nilai dan komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan,” ujar Theresia.

Fotografer: Rendy MR/TopBusiness.id

BACA JUGA

Tinggalkan komentar