Jakarta, TopBusiness – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kembali menggelar Indonesia Property Expo (IPEX) pada tanggal 15 Februari hingga 23 Februari 2020 mendatang yang digelar di JCC, Jakarta Pusat tersebut.
Di ajang yang ke-20 itu, Bank BTN menargetkan dapat meraup izin prinsip Kredit Pemilikan Rumah (KPR) baik subsidi maupun non subsidi sebesar Rp 3 triliun dengan target booked sebesar Rp 1 triliun.
“Tahun ini adalah tahun tepat untuk membeli properti karena banyak faktor yang membuat investasi pada properti ini menarik pada saat era suku bunga murah berlangsung,” kata Direktur Utama Bank BTN, Pahala N. Mansury, di acara Pembukaan IPEX di Jakarta, ditulis Senin (17/2/2020).
Dengan begitu, kata dia, uang muka KPR juga semakin terjangkau setelah aturan relaksasi Loan To Value (LTV) mulai berlaku Desember lalu dan variasi hunian yang strategis terutama di wilayah Jabodetabek semakin banyak. Ditunjang sarana dan prasarana transportasi yang sudah jadi seperti LRT, MRT, dan lainnya.
Pahala menyebut, tantangan dan peluang properti tahun 2020 masih tinggi, karena ancaman resesi akibat kondisi geopolitik yang memanas serta yang terbaru adalah mewabahnya virus korona di China yang diperkirakan melumpuhkan kekuatan ekonomi China akan ikut berdampak ke Indonesia.
Sementara di 2019 lalu, kata dia, sebagai tahun yang tidak mudah bagi sektor properti, karena penjualan properti mengalami penurunan. Berdasarkan survey Bank Indonesia, Penjualan Properti Residensial Triwulan IV/2019 turun 16,33%(qtq) secara triwulanan dibandingkan triwulan III/2019 yang masih tumbuh 16,18%. Penurunan penjualan perumahan ini terjadi secara merata baik rumah tipe kecil, menengah ataupun besar.
Namun begitu, Pahala optimistis sektor properti yang dikenal memiliki multiplier effect ke 170 industri turunan adalah sektor yang bertahan dan bangkit di tengah ancaman dari faktor eksternal tersebut.
Apalagi Pemerintah dan BI memberikan dukungan yang cukup ke sektor properti antara lain peningkatan batasan tidak kena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, pembebasan PPN atas rumah/bangunan korban bencana alam.
Kemudian penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 atas hunian mewah dari 5% menjadi 1%, dan peningkatan batas nilai hunian mewah yang dikenakan PPh dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM).
BI juga mendukung sektor properti lewat kebijakan moneternya, antara lain relaksasi LTV dan pelonggaran Giro Wajib Minimum serta penurunan suku bunga acuan atau BI Rate.
“Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk mendukung sektor properti tetap tumbuh, karena itu Bank BTN tetap mendukung Program Sejuta Rumah yang telah dicanangkan Pemerintah dengan mengandalkan KPR Non Subsidi dan tetap berkomitmen menjadi Bank penyalur FLPP,” kata Pahala.
Tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan kredit yang mayoritas ditopang sektor KPR sebesar 8-10 persen yang didorong pertumbuhan KPR secara keseluruhan sekitar 17%. Sementara untuk segmen KPR Subsidi, hanya menargetkan pertumbuhan sekitar 3%. Angka pertumbuhan KPR Subsidi yang melandai disebabkan karena kuota FLPP yang diberikan BTN sebesar 220.000 unit, jumlah tersebut terdiri dari Fasilitas Likuidtas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 110.000 unit dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) sebanyak 40.000 unit hingga 45.000 unit. Untuk mencapai target tersebut, strategi yang dijalankan Bank BTN salah satunya dengan aktif menggelar pameran seperti IPEX ini yang diramaikan oleh 105 pengembang.
