Jakarta, TopBusiness – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) memutuskan untuk merombak jajaran direksi dan komisaris.
Rapat dihadiri oleh pemegang saham mewakili 93,90% atau sejumlah 20.042.208.217 saham dari seluruh jumlah saham yang dikeluarkan yaitu 21.343.290.230 saham.
Dengan begitu, susunan Direksi dan Dewan Komisaris BRI Agro adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama: Budi Satria; Komisaris Independen: Anna Maria Tjiadarma; Komisaris Independen: A.Y Soepadmo; Komisaris: I.B.K Suamba Manuaba
Direksi
Direktur Utama: Ebeneser Girsang; Direktur Operasional dan Keuangan: Arif Wicaksono; Direktur Bisnis: Sigit Murtiyoso; Direktur Risk Management: Herry Prayudi; Direktur Legal, Compliance and Human Capital: Ernawan
Selain itu, RUPST juga memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham, memperhatikan, perseroan masih membutuhkan penguatan permodalan dalam rangka meningkatkan ekspansi kredit.
Ebeneser menegaskan, kinerja selama 2019 ini porsi penyaluran kredit kepada sektor agribisnis sendiri masih tercatat sebesar 56%. Dengan penyaluran terbesar pada komoditas kelapa sawit yaitu sebesar 81,22% kemudian kehutanan dan kayu sebesar 4,17%, gula sebesar 3,9% dan lain-lainnya sebesar 10,98%.
“Selain melakukan pengembangan bisnis eksisting, BRI Agro juga saat ini tengah melakukan kolaborasi dengan berbagai Start Up dari berbagai jenis bidang bisnis, salah satunya dari bidang Financial Technology (Fintech) Services dalam upaya untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada masyarakat melalui digital platform,” tegas dia.
Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dihimpun oleh BRI Agro yang meningkat 17,05% (yoy) dari sebesar Rp18,06 triliun tahun 2018 (audited) menjadi sebesar Rp21,14 triliun pada tahun 2019 (audited).
Komposisi DPK terdiri dari deposito sebesar 85,69% sedangkan produk Giro dan Tabungan masing-masing memiliki komposisi sebesar 9,12% dan 5,18% terhadap total Dana Pihak Ketiga.
“Pada Laporan Laba Rugi, Pendapatan bunga tumbuh sebesar 23,51% (yoy) dari Rp.1,66 triliun pada 2018 (audited) menjadi sebesar Rp.2,05 Triliun pada 2019 (audited),” tandas dia.
Dengan kondisi tersebut, BRI Agro tetap mampu mencetak laba dengan perolehan laba bersih sebesar Rp51,06 miliar. “Dan dari sisi likuiditas, rasio likuiditas (LDR) BRI Agro masih dapat terjaga pada level aman yakni sebesar 91,59% sesuai parameter yang ditetapkan oleh regulator. Selain itu, tingkat likuiditas diluar rasio LDR yaitu RIM masih tetap terjaga pada level 90,77%. Sementara CAR di posisi 24,28% pada 2019 itu,” pungkasnya.
