Jakarta, TopBusiness – PT Komatsu Undercarriage Indonesia (KUI) terus konsisten melakukan pertanggungjawaban sosialnya berupa aksi corporate social responsibility (CSR) baik itu ke dalam (internal) maupun ke luar (eskternal). Banyak bentuk CSR yang diterapkan perusahaan manufaktur ini. CSR sendiri diterapkan perusahaan ini dilakukan selaras dengan arah bisnis Komatsu. Dengan fokus CSR-nya adalah, memakmurkan kehidupan, mendidik manusia, dan berkembang bersama masyarakat.
Trianugrah Ludji, General Manager TPM Project (KUI) CSR perseroan memang didasari tak lepas dari adanya isu-isu yang dihadapi perusahaan asal Jepang ini. Yakni pertama, gap antara dunia kerja (skill & kompetensi) dengan dunia pendidikan; kedua, dati sisi lingkungan (environmental) berupa dampak central industri. Dan ketiga berkembang bersama masyarakat.
“Sehingga CSR KUI itu terdiri dari tiga hal yaitu developing people (pengembangan manusia), antara lain dengan mengembangkan link & match itu. Juga enchancing quality of life (peningkatan kualitas hidup), seperti pembuatan hutan. Dan juga growing with society seperti kerja bakti bersama warga, dan lainnya,” tandas Trianugrah saat acara penjurian peserta Top CSR 2020 yang digelar Majalah TopBusiness, di Jakarta, Kamsi (20/2/2020).
Dalam program CSR link and match ini, perusahaan produsen alat-alat berat ini memiliki lima Sekolah Menengah Teknik (SMT) sebagai mitra untuk program link and match di Sekolah Menengah Teknik dari Jawa Barat dan Jawa Tengah in. Apalagi lokasi pabrik KUI berada di CIkarang, Bekasi, Jabar.
“KUI mempunyai 5 sekolah binaan dalam rangka program link and match ini yaitu dua di Jateng dan tiga di jabar. Manfaatnya, calon karyawan menjadi lebih siap untuk ditempatkan karena pembelajaran sudah dimulai sejak awal. Dan ini juga terkait dengan startegi bisnis perseroan, sebab pada akhirnya kami akan rekrut mereka,” tutur dia.
Sri Lestari, HRGH Asmen KUI menambahkan, untuk memaksimalkan program ini, KUI sendiri sudah membangun Gedung Takumi Training Center sebagai pusat pembelajaran yang diresmikan pada tanggal 15 Desember 2016 lalu. Dengan adanya pusat pelatihan ini, pendidikan yang semula dilakukan selama empat bulan menjadi hanya dua bulan saja.
Terkait program lingkungan, lanjut Sri, perseroan juga melakukan penggunaan Liquid Natural Gas (LNG) atau gas alam sebagai bahan bakar di KUI. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 41 tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit.
“Kami melakukannya sejak tahun 2012 lalu dan di dua tahun terakhir yakni di 2018 dan 2019 sudah menetapkan B20, sedang di tahun 2020 ini kami menerapkan B30. Ini sebagai program menurunkan emisi. Dan ternyata dengan pengguaan LNG ini menjadi lebih efisien,” kata dia.
Dia memberi contoh penghitungan pengurangan biaya, untuk penggunaan dari solar dan beralih ke LNG dari konsumsi seharinya sebanyak 489 liter menjadi 312 m3. Dengan harga unitnya dari US$ 0,76 per liter menjadi US$ 0,33 per m3. Sedang biaya per harinya dari US$ 372 menjadi US$ 103 per hari.
Begitu pun dengan penghitungan penguranagn emisi gas CO2 atau mesin, dari konsumsi per hari untuk solar sebanyak 0,489 kLiter menjadi 0,312 km3 LNG. Dengan emisi gas CO2 dari 2,58 ton/kl menjadi 2,23 ton/km3 per dati penggunaan solar ke LNG. Serta emisi gas CO2 per harinya dari 1,26 ton menjadi 0,70 ton.
“Saat ini KUI sudah memiliki sembilan mesin yang sudah menggunakan LNG sebagai bahan bakar pengganti solar, ketika beroperasi dengan maksimal, dalam satu hari dapat mengurangi emisi gas CO2 mencapai 5 ton. Sedang penghematan biaya bisa mencapai US$ 2. 421 per harinya,” terang dia.
Sementara aksi CSR lainnya, adalah pembuatan hutan kota di Cikarang dengan menanam 1.000 pohon di lahan seluas 2 ha menjadi EduForest. Juga ada kampanye reduce single usage plastic yang disosialisasikan ke karyawan di kantin. Yang semula menggunakan AMDK (air minum dengan kemasan) gelas diganti menjadi refill gallon. Juga penanaman 2.000 pohon mangrove di Muara Gembong, Bekasi.
Juga dilakukan terhadap stakeholder customer. Yakni membuat produk sesuai customer voice KUI dengan meng-improvement terkait salah satu produk yakni bushing karena digunakan di tempat yang medannya sulit atau berat. Sehingga kualitas dan kemampuannya ditingkatkan. “Sedang masalah equality sebagai bagian dari stadnar CSR kami tengah mengarah ke sana, yakni equality 30 persen. Saat ini dari jumlah karyawan 1.043, untuk pekerja perempuannya baru 33 orang saja, itu banyak di office. Dan kami juga memperbolehkan karyawan untuk membuat dua serikat pekerja dan ada 14 komunita dari karyawan sesuai hobi,” tutup Sri.
