Jakarta, TopBusiness – PT Jasa Marga Tbk (Persero) berkomitmen untuk mensinergikan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dengan Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) sebagai sebagai salah satu langkah untuk meraih sertifikat ISO 26000 . Hal ini masuk rencana Program PKBL lima tahunan PT Jasa Marga.
Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru optimistis sertifikat ISO 26000 sebagai standar global pelaksanaan CSR itu bisa diraih. Terlebih, perseroan telah memiliki sertifikasi ISO lainnya seperti ISO 9001 : 2015 untuk Sistem Manajemen Mutu, ISO 31000 : 2018 Risk Management, dan ISO 45001 : 2018 untuk Occupational Health and Safety.
Program-program CSR Jasa Marga juga selalu diupayakan untuk selaras dengan tujuan-tujuan pada sustainable development goals (SDGs).
Heru menjelaskan, ada beberapa Program CSR Unggulan Jasa Marga, yang pertama adalah Program Pengembangan Wisata Nanggulan Agrotech di Desa Wijimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Desa Wijimulyo merupakan salah satu desa terdampak rencana ruas tol dari bandara Yogyakarta–Solo.
Kegiatan pengembangan wisata aggrotech ini dilakukan dengan budidaya tanaman klengkeng new chrystal melalui teknologi tepat guna bekerja sama dengan IPB. “Dikembangkan 1.250 batang klengkeng, 350 di antaranya ditanam di rumah-rumah penduduk,” kata Heru dalam sesi Presentasi dan Wawancara TOP CSR Awards 2020 di Jakarta, Jumat (21/2/2020).
Mengenai keterkaitan dengan strategi bisnis perseroan, Heru menjelaskan bahwa Program Pengembangan Wisata Nanggulan Agrotech ini bagian dari pengelolaan dampak sosial dan lingkungan akibat rencana pembangunan ruas jalan tol baru bandara Yogyakarta-Solo.
“Ini juga bagian dari komitmen perusahaan terhadap tujuan-tujuan pada SDGs nomer 1 terkait ppengurangan kemiskinan; nomer dua tentang ketahanan pangan & pertanian berkelanjutan; nomer delapan tentang promosi ekonomi yang berkelanjutan; serta nomer 15 tentang konservasi keanekaragaman hayati,” ujar dia.
Program CSR unggulan lainnya adalah Sinergi Destinasi Super Prioritas Candi Borobudur dengan Konservasi Kopi Endemik & Pengembangan Organic Coffee Centre di Desa Majaksingi Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pemerintah menetapkan Candi Borobudur sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP). Program sinergi ini dilakukan dengan membangun balai ekonomi desa (balkondes), homestay, rumah semai dan rumah kompos, dan lainnya. Selain itu, budidaya kopi dan pelatihan barista bekerja sama dengan Komunitas Kopi Borobudur.
Menurut Heru, program CSR ini sangat terkait dengan strategi bisnis Jasa Marga, terutama untuk memenuhi ekspektasi pemerintah sebagai shareholder mayoritas dalam mensukseskan destinasi super prioritas (DSP). “Ini juga bagian dari komitmen perusahaan terhadap tujuan-tujuan pada SDGs,” tutur dia.
Jasa Marga juga memiliki Program CSR unggulan berupa Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati Melalui Penanaman dan Koleksi Flora Langka di Lokasi Rest Area Km. 88 Jakarta-Cikampek. Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) merupakan amanah dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 2012. Kegiatan yang dilakukan antara lain penanaman pohon dan tempat koleksi flora-flora langka yang terancam punah.
“Penanaman dan pemeliharaan taman ini melibatkan masyarakat setempat. Ini juga bagian dari pengelolaan dampak sosial dan lingkungan akibat pembangunan ruas jalan tol Jakarta – Cikampek,” kata Heru.
Program Green Toll Road
Tak hanya melaksanakan program PKBL dan CSR, Jasa Marga juga berupaya untuk mengadopsi Creating Shared Valued (CSV) dalam setiap kebijakan atau program-program tersebut. Satu program yang sudah mengadopsi CSV adalah Program Green Toll Road Indonesia yang berlokasi di ruas tol Gempol–Pandaan (Jawa Timur) dan ruas tol Pandaan–Malang (Jawa Timur). “Dalam program inisiatif ini, kami bermitra dengan Kementerian PUPR dan Green Product Council Indonesia (GPCI), NGO Global Eco Network,” ujar Heru.
Menurut Heru, aktivitas yang dilakukan dalam Program Green Toll Road Indonesia antara lain penggantian lampu-lampu penerangan jalan umum (JPU) menggunakan jenis lampu LED. Selain itu, penanaman jenis-jenis vegetasi penyerap polutan pada area terbuka pada ruang milik jalan tol (rumijatol). “Ini bermanfaat untuk pengurangan emisi carbon dan polutan zat-zat pencemar dalam fase gas (SOX, NOX ),” tutur Heru.
Aktivitas lainnya adalah pembuatan tempat-tempat penampungan air limpasan (run- off) pada lokasi tertentu di ruas-ruas jalan tol. Selain itu, penggunaan material bahan bangunan bagi kegiatan konstruksi yang ramah lingkungan. “Untuk pekerjaan konstruksi, kami memilih kontraktor yang memenuhi compliance terhadap berbagai peraturan atau kebijakan terkait lingkungan,” kata Heru.
