Jakarta, TopBusiness – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus terjebak di zona merah dalam beberapa hari ini. Bahkan hingga Kamis (27/2/2020) ini, posisi Indeks ditutup melemah 2,62% di sesi pagi ke posisi 5.539,38 atau anjlok 149,54 poin.
Dengan kondisi pasar yang seperti itu, pihak otoritas dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai ancang-ancang untuk menjaga agar jangan sampai laju IHSG kian dalam. Cara ini dilakukan dengan mengaktifkan Crisis Management Protocol (CMP) melalui sejumlah langkah prosedural ari mencermati kinerja indeks dan emitennya.
Direktur BEI, Hasan Fawzi menegaskan, penurunan IHSG sebesar 1 persen dalam sehari akan disikapi BEI dengan meningkatkan pengamatan terhadap kondisi pasar dan emiten. “Kalau terjadi penurunan 5 persen dalam sehari, maka akan dilakukan cooling down seperti yang pernah terjadi di 2008 lalu,” kata Hasan usai acara “Go Public Workshop Bersama DPD REI DKI Jakarta” di Gedung BEI Jakarta, Kamis (27/2/2020).
Dia menyebutkan, penurunan IHSG di Sesi I perdagangan hari ini merupakan dampak global dari penyebaran virus corona yang hingga kini masih menjadi momok bagi pelaku pasar.
“Saat ini kami sudah memasuki fase mencermati fundamental pasar dan masing-masing emiten yang mengalami penurunan harga saham,” ujar Hasan.
Lebih lanjut Hasan mengungkapkan, jika terjadi penurunan IHSG mencapai 7,5 persen dalam sehari, maka BEI bersama SRO lainnya, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengaktifkan CMP tersebut.
“Kami sudah memiliki manajemen krisis untuk mengantisipasi kondisi terburuk di pasar. Crisis Management Protocol siap diaktivasi jika IHSG menurun 7,5 persen sehari. Tetapi, kondisi pasar kita saat ini masih jauh lebih baik dari krisis keuangan di 2008 silam,” terang dia.
Untuk itu, Hasan berharap, penurunan IHSG pada hari ini yang melebihi 2,5 persen sebagai titik terendah yang sebelumnya sudah diproyekaikan oleh para analis maupun institusi yang bersentuhan dengan pasar modal.
“Secara umum, fundamental ekonomi Indonesia sangat baik, kinerja emiten (di 2019) juga terbukti baik. Mereka sudah menyampaikan laporan keuangan kepada publik,” tuturnya.
Menurut Hasan, penurunan IHSG mengikuti penurunan bursa saham utama di tingkat global yang penurunannya jauh lebih dalam. “Penurunan ini bukan hanya di pasar kita saja, karena eskalasi global terkait penyebaran virus Corona. Pemerintah kita juga sudah meng-address isu penyebaran Corona melalui berbagai kebijakan,” ujarnya.
Dia meyakini, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia maupun para emiten di pasar modal domestik tidak akan menekan IHSG untuk turun hingga 10 persen. “Kalau terjadi penurunan sampai 10 persen dalam sehari, maka akan dilakukan suspensi terhadap IHSG sendiri,” pungkas Hasan.
