Jakarta, TopBusiness – Berawal dari sebuah aktivitas keagamaan berupa zakat dan wakaf, Program Tanggung Jawab Sosial alias CSR BNI Syariah kini semakin berkembang menembus pelosok negeri. Lewat program unggulannya bernama Benteng Hasanah, BNI Syariah melakukan berbagai aktivitas sosial di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan keagamaan dengan sasaran daerah kategori 3 T (terluar, terjauh, dan tertinggal).
Tak tanggung-tanggung, saat ini sudah ada 9 titik Benteng Hasanah di daerah pelosok Indonesia. (lihat infografis)
“Kami melakukan pemberdayaan did aerah 3T. Program Benteng Hasanah ini sesuai dengan policy pemerintah yang mulai fokus di area 3T,” kata Bambang Sutrisno, Corporate Communication PT BNI Syariah dalam sesi Presentasi dan Wawancara Penjurian TOP CSR Awards 2020 di Jakarta, Rabu (26/2/2020).
Bambang menjelaskan, Program CSR Benteng Hasanah ini diinisiasi oleh BNI Syariah pada 2018 dalam rangka milad ke-8. Untuk melaksanakan program ini, BNI Syariah bersinergi dengan Yayasan Hasanah Titik serta beberapa lembaga amil zakat (LAZ) di Indonesia. Yayasan Hasanah Titik merupakan yayasan yang didirikan oleh BNI Syariah untuk mengelola dana zakat dan wakaf dari perusahaa, karyawan, dan masyarakat umum.

“Keterkaitan dengan strategis bisnis perusahaan, Benteng Hasanah ini menjadi pintu awal bagi BNI Syariah untuk melakukan penetrasi bisnis pada daerah tersebut atau komunitas setempat untuk produk perbankan seperti pembiayaan, tabungan, dan lainnya,” ujar dia.
Program CSR unggulan lainnya adalah Hasanah Earth Day. Program tahunan BNI Syariah untuk memperingati Hari Bumi Dunia ini bentuknya antara lain edukasi lingkungan di sekolah, penanaman bibit, penggunaan botol minum (tumbler), dan aksi recycle. Dalam program ini juga ada dukungan terhadap UMKM melalui produk pembiayaan.
Program unggulan lainnya adalah Pelatihan Manajemen Masjid (PMM). Tujuan dari program ini adalah untuk mengopimalisasi pengelolaan masjid dari segi keuangan, organisasi, penyusunan program dan pengembangan usaha.
“Dengan Pelatihan Manajemen Masjid ini bisa memaksimalkan potensi ekonomi dari masjid serta seluruh jamaahnya. Selain itu, terbangun komunitas-komunitas ekonomi yang dapat bersinergi.
Bambang menjelaskan, program PMM ini sangat mendukung strategi bisnis perusahaan karena setiap Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) yang mengikuti PMM akan membuka rekening BNI Syariah. Selain itu, jamaah masjid juga menjadi potensi pasar yang besar untuk BNI Syariah.
Tahun 2019, BNI Syariah sudah menggelar PMM yang diikuti wakil DKM dari sekitar 3.000 masjid di seluruh Indonesia. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2018 yang diikuti sekitar 2.000 perwakilan masjid. “Tahun 2018 kami adakan PMM ini di 10 kota, sedangkan 2019 kami adakan di 20 kota,” ujar Bambang.
Bambang mengakui, masjid di Indonesia memiliki potensi dana yang cukup besar. Dalam satu tahun saja, BNI Syariah bisa meraih dana kelolaan dari masjid mencapai Rp 100 miliar.
Bambang yang bari 1,5 bulan dipercaya memegang jabatan corporate communication ini menjelaskan, paradigma CSR di BNI Syariah berawal dari sebuah aktivitas keagamaan yang dalam ketentuan ekonomi Islam disebut sebagai zakat.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di perbankan syariah, kami ikuti pola itu, di mana persahaan tidak mengalokasikan dana untuk CSR, tapi yg dialokasikan itu zakat. Zakat di BNI Syariah memiliki keunggulan dari dua sisi, zakat untuk perusahaan dipotong 2,5 persen dari laba, di sisi lain pegawai pun dipotong 2,5 persen gajinya untuk zakat. Dana zakat pegawai dan zakat perusahaan digabungkan untuk dikelola dalam sebuah aktivitas sosial,” kata Bambang.
Untuk mengelola dana zakat, infak, shodaqoh dan wakaf dari perusahaan, pegawai dan masyrakat umum, BNI Syariah mendirikan Yayasan Hasanah Titik. Ini dilakukan karena sesuai UU Zakat dan UU Wakaf, perusahaan tidak boleh mengelola zakat dan wakaf. Untuk memudahkan masyarakat yang ingin mewakafkan hartanya, BNI Syariah memiliki aplikasi online atau apps wakaf bernama Wakaf Hasanah.
Mengenai kinerja bisnis perseroan, BNI Syariah sepanjang tahun 2019 lalu membukukan laba Rp 603 miliar, naik 44,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Return on asset juga naik 1,82%, nilai aset juga meningkat Rp 49,98 triliun, pembiayaan naik Rp 32,58 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) naik Rp 43,77 triliun.
Fotografer: Rendy MR/TopBusiness
