Jakarta, TopBusiness—Digitalisasi dalam setiap aspek kehidupan adalah perubahan yang tidak terelakkan, termasuk dalam industri media dan periklanan yang setiap hari mengalami tuntutan untuk menciptakan terobosan baru yang sejalan dengan kekinian dunia. Untuk itu, selain kreatifitas, cara mengukur efektifitas dan efisiensi strategi pemasaran dan media placement membutuhkan metode dan cara-cara perhitungan baru yang lebih canggih hingga ke tingkat yang paling rinci.
Demikian disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, dalam pidatonya pada acara forum diskusi yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) dan Nielsen Media, bertajuk Measurement Matters: Counting What Counts.
Dalam keterangan tertulisnya yang diterimanya hari ini oleh wartawannya Majalah TopBusiness, Menteri Wishnutama menyatakan mendukung penuh inisiatif P3I dan Nielsen untuk membahas danmenyepakati adanya cross-media measurement yang dapat diandalkan oleh industri media dan periklanan, guna mendukung kampanye komunikasi dan pemasaran yang lebih efektif dan efisien di era digital ini.
Selain Menteri Wishnutama, acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Sumiati, mewakili Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dalam pidatonya, Sumiati memaparkan usaha-usaha yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah terkait dengan digitalisasi, diantaranya rencana meluncurkan tiga tambahan High Throughput Satellite (HTS) untuk menyediakan layanan konektivitas yang semakin baik, akselerasi implementasi 5G dan mendorong percepatan beberapa regulasi prioritas seperti UU Perlindungan Data Pribadi, regulasi terkait pertukaran data transnasional (cross-border data flow), dan UU Penyiaran.
Forum Measurement Matters: Counting What Counts yang diselenggarakan kemarin oleh P3I danNielsen tersebut membahas mengenai cross-media measurement dalam lima sesi diskusi panel terpisah, yang menghadirkan perspektif dari berbagai sisi yaitu media televisi dan agensi, pengiklan, Nielsen sebagai pelaku pengukuran media, pelaku media digital serta asosiasi industri.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
