Jakarta, TopBusiness – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tengah membahas alternatif pendanaan untuk biayai investasi jangka panjang sebagaimana yang diminta oleh Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian.
Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini mengatakan, dengan rata-rata kebutuhan investasi mencapai Rp 100 triliun per tahun, maka kebutuhan investasi hingga tahun 2024 ditaksir sekitar Rp 400 triliun.
“Kalau Rp 100 triliun per tahun, kalikan empat saja (investasi hingga 2024),” ujarnya usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, seperti dikutip Rabu (4/3/2020).
Terkait skema alternatif pembiayaan, Zulkifli masih enggan menjabararkan rinciannya. Ia hanya menegaskan sumber pendanaan investasi PLN saat ini masih bertumpu pada perbankan, termasuk obligasi dan bond.
“Ya nanti lah, kami diminta dua pekan lagi untuk menyampaikan rencana pembiayaan investasi,” imbuh Zulkifli.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019-2028, PLN menargetkan tambahan jaringan transmisi sepanjang 13.509 kms pada tahun 2019 dan mencapai 57.293 kms dalam 10 tahun ke depan.
Sementara penambahan gardu induk ditargetkan sekitar 23.000 MVA pada tahun 2019 dan mencapai 124.341 MVA hingga tahun 2028.
Belanja Modal Rp 90 T
Belanja modal atau capex PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) tahun ini sebanyak Rp 90 triliun sudah disetujui oleh pemegang saham.
Hal tersebut dinyatakan oleh Direktur Utama (Dirut) PT. PLN, Zulkifli Zaini di Kantor kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (03/03/2020). “Sudah disetujui pemegang saham. Capex kita Rp 90 Triliun,” ungkapnya.
Zulkifli menjelaskan, pendanaan tersebut berasal dari perbankan, termasuk obligasi dan bond. Menganai kisaran dsri bond, Zulkifli menjelaskan ia tak hafal betul berapa nominalnya.
Terkait alokasi penggunaan dana tersebut, Zulkifli menjelaskan salah satunya akan digunakan untuk pembangunan transmisi. “(alokasinya) mayoritas untuk transmisi, distribusi, lalu pembangkit,” ujarnya.
