TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kala Digitalisasi Merasuk ke Dunia Pertanian

Nurdian Akhmad
12 April 2020 | 15:04
rubrik: Ekonomi
Kala Digitalisasi Merasuki Dunia Pertanian

Transformasi digital kini tidak hanya terjadi di sektor industri dan jasa, tapi juga sektor pertanian. Diakui, sektor usaha yang akrab digeluti oleh masyarakat lapisan bawah itu selama ini minim sentuhan teknologi informasi. Namun, terjangan revolusi industri 4.0 yang mendera semua sektor usaha saat ini tidak bisa dihindari lagi.

Menghadapi revolusi industri ini, pemerintah maupun dunia usaha baik swasta maupun BUMN giat mendorong digitalisasi pertanian. Digitalisasi sistem pertanian ini juga merupakan implementasi dari arahan Presiden Joko Widodo untuk kesejahteraan pertanian.

Sejumlah BUMN yang diinisiasi oleh PT Telkom Indonesia Tbk membesut sistem digital bernama Logistik Pertanian alias Logtan pada 2018. Aplikasi Logtan berisi data-data para petani yang mendaftarkan diri dalam akun tersebut. Melalui aplikasi ini, para petani dapat melihat berbagai fitur yang memudahkan petani dalam menjadwalkan masa bertani hingga status lahan pertanian milik para petani.

“Aplikasi ini isinya berupa data-data petani, luas lahan, rencana tanam dan identifikasi lainnya. Data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai analitik, mengetahui korelasi cuaca dengan rencana tanam, ketepatan kebutuhan pupuk, sensor tanah, pemupukan otomatis, hingga akurasi prediksi panen,” ujar David Bangun selaku Direktur Digital and Strategic Portofolio PT Telkom Indonesia, baru-baru ini.

Selain itu, Logtan juga memungkinkan para penggunanya untuk mengakses subsidi. Subsidi ini disalurkan oleh BUMDes berupa benih hingga pupuk yang ditujukan bagi para petani yang membutuhkan. Adanya Logtan diharapkan mampu mendorong produktivitas pertanian. Target awal diluncurkannya aplikasi ini adalah dapat meningkatkan produktivitas petani hingga 20 persen.

Sejumlah BUMN yang terlibat dalam pengembangan Logtan antara lain PT Pupuk Indonesia, Bank BTN, Bank BNI, Bank BRI, Bank Mandiri, Perum Bulog, RNI, Askrindo, Jasindo, Pertani, Sang Hyang Seri, Pegadaian, PNM, PPI, serta Mitra BUMDes Bersama.

BACA JUGA:   Setahun, Hipmi Apresiasi Kinerja Pemerintah Jokowi-Ma’ruf

Sejak diluncurkan pada 2018 di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hingga kini tercatat lebih dari 7 ribu petani telah membuat akun di aplikasi Logtan ini.


Kementan Andalkan Toko Tani Indonesia

Tak hanya BUMN, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) juga membesut aplikasi belanja daring produk pertanian bernama Toko Tani Indonesia Center (TTIC). Aplikasi yang dikenalkan perdana ke masyarakat pada 2017 ini menyediakan sebelas kebutuhan bahan pokok dengan harga sesuai acuan pemerintah.

Untuk mempermudah masyarakat dalam menerapkan physical distancing di tengah pandemi virus korona atau Covid-19, Kementan bekerja sama dengan PT Aplikasi Anak Bangsa atau Go-Jek memberikan layanan belanja daring. 
Dalam kerja sama tersebut masyarakat yang membeli bahan pangan di Toko Tani Indonesia lewat Go-Jek tidak perlu membayar biaya antar alias gratis ongkos kirim. 

Aplikasi Toko Tani Indonesia buatan Kementerian Pertanian

Kementan berharap kerja sama tersebut diharapkan dapat menjamin distribusi pangan kepada masyarakat. 
Kerja sama ini nantinya akan berlaku di Toko Mitra Tani di seluruh Indonesia yang berjumlah mencapai 3.500 unit. 

Dari segi harga, komoditas di TTIC tidak berbeda jauh dengan yang ada di pasar tradisional. Bahkan harganya bisa jauh lebih murah dengan kualitas barang yang lebih bagus. Harga sejumlah bahan pokok di TTIC pada April 2020, misalnya daging sapi mulai Rp 75 ribu per kg, cabai rawit merah Rp 35 ribu per kg, ayam Rp 30 ribu per kg, minyak Rp 11 ribu per liter, beras Rp 8.800 per kg, gula pasir Rp 12.500 per kg, bawang putih Rp 32 ribu per kg, cabai merah/hijau besar Rp 25 ribu per kg, bawang merah Rp 25 ribu per kg, dan telur ayam Rp 23.500 per kg.

BACA JUGA:   ASEAN Pacu Ekonomi Digital, Kontribusi RI Bisa 40 Persen

Startup Pertanian Makin Diminati

Di sektor swasta, sejumlah startup atau perusahaan rintisan lokal juga bermunculan dengan misi memberdayakan petani dan memudahkan akses pasar bagi petani dalam menjual produknya. Sebut saja yang menonjol adalah iGrow dan TaniHub.

iGrow merupakan sebuah platform yang membantu petani lokal, lahan yang belum optimal diberdayakan, dan para investor penanaman untuk menghasilkan produk pertanian organik berkualitas tinggi. Startup ini didirikan oleh Muhaimin Iqbal, Andreas Senjaya, dan Jim Oklahoma, dan kini memiliki kurang lebih 10 anggota dalam tim.

Sampai saat ini hanya dengan pasar Indonesia, iGrow telah berhasil mempekerjakan 7.500 lebih petani di 2.500 hektare lebih lahan dan memperoleh hasil panen yang baik dan berkualitas.

Tidak hanya itu, iGrow juga telah menjadi sumber pendapatan bagi para petani, pemilik lahan, dan investor penanaman. Pada tahun 2017 iGrow dibekali dana segar tanpa ekuitas dari Google senilai 50.000 dollar AS atau setara Rp 666 juta. Setahun sebelumnya atau tahun 2016, iGrow juga mendapat pendanaan dari East Ventures dan 500 Startups.

Investasi ini diharapkan bisa mempercepat misi iGrow untuk menanam pertanian organik dan mengembangkan bisnis di masa depan. Selain Indonesia, iGrow juga berencana ekspansi ke negara lain.

Startup pertanian lainnya adalah TaniHub. Startup ini didirikan pada 2016 oleh Ivan Arie Sustiawan, Pamitra Wineka, Michael Jovan, William Setiawan, Edwin Setiawan, dan Oki Setiawan. Ada tiga unit usaha yang dikembangkan startup ini, yaitu TaniHub sebagai platform e-commerce hasil tani, TaniFund untuk pendanaan mitra petani, serta TaniSupply yang fokus kepada pengelolaan rantai pasok.

Sepanjang tahun 2019, pertumbuhan bisnis TaniHub melonjak 268,2% dibandingkan tahun 2018. Produk perishable menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan Gross Merchandise Value (GMV) pada 2019. Untuk itu, TaniHub semakin percaya diri menjadi platform e-commerce produk pertanian dan katalisator bagi masa depan pertanian.

BACA JUGA:   Sektor Pertambangan Membaik, Aktivitas Bongkar-Muat Alat Berat dan Truck di IPCC Naik

Upaya TaniHub untuk makin mendekati petani maupun market juga sudah diwujudkan dengan membangun fasilitas distribusi regional (regional distribution center) di lima kota, yaitu Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar.

Akhir tahun 2019 lalu, TaniHub membangun fasilitas pemrosesan dan pengemasan (processing and packing center) di Malang dan berencana menambah satu lagi tahun ini. Tujuan membangun fasilitas tersebut untuk menjaga konsistensi dan menjamin kualitas produk. Ke depan, perusahaan rintisan ini berharap dapat menjangkau seluruh kota di Indonesia pada tahun 2022 karena potensi pasar yang masih sangat besar.

Berdasarkan data yang diperoleh TaniHub, Indonesia memiliki 5.700 produsen di industri pengolahan makanan (food processing industry) dan lebih dari 30.000 outlet modern retailer (supermarket, hypermarket, dan lain-lain). Saat ini lebih dari 1,6 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan 200.000 outlet hotel, restoran dan katering (Horeka) beroperasi di Indonesia.

Sejak tiga tahun terakhir, upaya TaniHub untuk menciptakan dampak sosial telah membantu peningkatan produksi petani sebesar 30% dan pendapatan mereka secara umum sebesar 50%. Hingga kini, TaniHub juga telah bermitra dengan lebih dari 30.000 petani.

Seiring literasi digital di Indonesia yang semakin baik terutama dengan adanya 160 juta lebih pengguna gawai, dunia pertanian di Indonesia akan semakin berkembang dinamis. Sektor usaha ini pun semakin menjanjikan keuntungan secara ekonomi. Saat ini pun, banyak anak muda generasi milenial tak malu lagi mengklaim status dirinya sebagai petani, sebuah profesi yang sebelumnya identik dengan orang tua dan tidak menjanjikan masa depan.

Ilustrasi foto: Istimewa

Tags: digitalisasi pertanianekonomi digital
Previous Post

ISEI Bantu Tim Medis Lawan Covid-19

Next Post

Bank BTN Revisi Target Pertumbuhan Kredit

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR