
Jakarta, businessnews.id — Pertumbuhan penyaluran kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun 2014 sebesar 13,88% (year on year) yakni dari Rp 430, 62 triliun di tahun 2013 menjadi Rp 490,41 triliun di tahun 2014. Padahal sebelumnya, menargetkan 15% sampai 17%. Direktur Keuangan BRI, Ahmad Baiquni, mengatakan hal itu di Jakarta (26/1/2015).
“Memang pertumbuhan kredit ahun 2014 tidak sesuai dengan RBB (Rencana Bisnis Bank) 2014 yang disampaikan kepada regulator. Itu karena pengetatan likuiditas,” kata dia.
“Sehingga melambat di pengumpulan DPK (dana pihak ketiga) dan berdampak pada selektifnya pemilihan debitur,” dia berkata.
Di samping itu, sepanjang tahun 2014 marak dengan agenda dan peristiwa politik mulai dari Pemilihan Umum Legislatif, Pemilihan Presiden, sampai sengketa hasil Pemilihan Presiden itu di Mahkamah Konstitusi (MK). Berlanjut lagi dengan perseteruan di DPR.
“Sehingga, banyak debitur menengah dan korporasi mengurungkan niatnya untuk mengajukan kredit,” kata Baiquni.
Alasan ketiga, BRI ingin ingin fokus ke kredit mikro. Sementara, sebenarnya kredit bisa saja disalurkan ke korporasi dan menengah.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed: Dhi