Jakarta, TopBusiness – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini masih diproyeksi di zona merah. Hal ini karena masih akan terdampak dari sentiment negatif penyebaran wabah virus corona (covid-19). Namun begitu di sesi pagi, mata uang Merah-Putih itu terlihat mulai membaik.
Mengutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di tangga Rp16.505 per USD atau terapresiasi 70 poin dari penutupan kemarin di posisi Rp16.575 per USD. Bahkan dalam 30 menit kemudian, rupiah masih berada di level positif, di Rp16.486,5 per USD atau membaik 88,5 poin setara 0,53%.
Menurut analis pasar uang dari Monex Investindo Futures, efek corona telah membuat ekonomi kian melambat. Apalagi sejumlah perusahaan sudah meliburkan pekerjanya, sehingga kondisi tersebut jelas menjadikan aktivitas ekonomi kian tertekan.
Sehingga level terburuk rupiah sepanjang masa telah terlewati, pasalnya belum juga ada tanda-tanda keadaan akan membaik. “Efek sentimen rencana (dari pemerintah) itu hanya sementara. Seperti stimulus yang sudah-sudah. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah ditemukannya vaksin, bukan subsidi dalam bentuk uang,” terang dia di Jakarta, Selasa (24/3/2020).
Untuk itu, lanjut dia, mata uang Garuda itu bakal menguat jika ada perkembangan positif atas penanggulangan virus corona. “Sekalipun ada wacana UU Pendanaan Darurat dari AS, tapi dampak rencana tersebut pada rupiah masih minim saja,” katanya.
Pada perdagangan kemarin, kurs rupiah berdasar data Bloomberg, Senin (23/3), di pasar spot melemah 3,85% menjadi Rp16.575 per USD. Sementara berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah kemarin melemah 3,29% menjadi Rp 16.608 per USD.
Sementara level kurs rupiah paling lemah sepanjang masa berada di posisi Rp16.650 per USD yang tercatat pada 17 Juni 1998 silam saat krisis moneter.
Sehingga dengan kondisi tersebut, Faisyal meramal kurs mata uang NKRI itu hari ini akan berada di kisaran Rp 16.400 hingga Rp 16.800 per USD.
