Jakarta, TopBusiness – Lembaga riset ekonomi dan keuangan, Indef menyatakan dampak dari adanya pandemic wabah virus corona atau Covid-19 akan mengganggu perekonomian. Tak hanya terhadap perekonomian nasional, akan tetapi juga perekonomian reginonal atau provinsi bakal kian tergerus. Untuk perekonomian DKI dianggap yang paling menderita.
“Karena DKI ini sebagai pusat penyebaran virus, sehingga dampaknya ke perekonomian juga akan signifikan. Dan potensi penurunan yang paling terasa adalah dari sisi penurunan konsumsi rumah tangga,” tegas Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef, M Rizal Taufikurohman, dalam diskusi virtual, ‘Meracik Vaksin Ekonomi Hadapi Pandemi’, di Jakarta, Selasa (24/3/2020).
Menurut Rizal, dampak terhadap regional ini, pandemic covid-19 ini akan menurunkan PDRB riil di semua provinsi pada semua skenario simulasi yang mereka lakukan. Penurunan ini, katanya, distimulus oleh turunnya produktivitas sektoral dan menurunkan penyerapan tenaga kerja menurut daerahnya. Terutama provinsi yang merupakan zona merah pandemic tersebut, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
“Jadi, pandemic covid-19 ini dampak terhadap kinerja PDRB riil itu pada semua skenario simulasi menurunkan PDRB di semua provinsi dengan angka variatif. Hal ini tentu saja didorong oleh produktivitas industri daerah provinsi yang kian meluncur turun yang selama ini memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB riil provinsinya itu,” terang dia.
Di level provinsi, sudah pasti kinerja industrinya menurun drastis. Terutama di provinsi yang termasuk zona merah endemic covid-19 itu. “Misalnya di provinsi DKI. Kinerja sektoralnya yang tergerus di tiga besar adalah industri peralatan listrik, industri asuransi dan keuangan, serta perdagangan. Kemudian juga di Jatim, kinerja industri yang turun 3 besar adalah, produk olahan ternak, listrik, dan peralatan elektronik. Itu semua terjadi pada semua scenario,” beber Rizal lagi.
Tak hanya itu, Indef juga melihat, dampak covid-19 itu terhadap investasi secara nasional dalam semua skenario simulasi juga terjadi penurunan. Hal ini karena distimulus oleh produktivitas industri atau sektoral dan regional yang menjadikan para investor semakin menahan investasinya.
“Paling tinggi penurunannya terjadi pada skenario ketiga, yakni jika penanganan pandemic covid-19 itu sangat lama selama enam bulan,” jelas Rizal.
