Stimulus AS Bikin Rupiah Menghijau

Penulis Tomy Asyari

Jakarta, TopBusiness – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi akan berada di zona hijau. Hal ini karena dipicu oleh adanya sentiment stimulus dari beberapa negara, salah satunya Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg pagi ini, Kamis (26/3/2020), mata uang NKRI itu dibuka di level Rp16.205 per USD atau menguat signifikan sebesar 295 dari penutupan sebelumnya atau Selasa lalu di tangga 16.500 per USD. Dalam satu jam pertama masih positif di tangga Rp16.290 per USD atau menguat 1,27% alias 210 poin. Laju rupuah di pagi ini berada di rentang Rp16.205 per USD hingga Rp16.290 per USD.

Menurut analis pasar uang senior dari Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menyebut, dengan posisi menguat di sesi pembukaan, laju mata uang Merah-Putih hari ini diproyeksi bisa rebound.

“Ini karena adanya sentimen positif dari rencana pemberian stimulus beberapa negara, salah satunya AS. Sehingga optimisme persetujuan stimulus AS ini bisa memicu penguatan [rupiah],” terang dia di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Kondisi pasar uang tersebut selaras dengan dampak sentimen stimulus pada aset berisiko seperti saham dan aset safe haven semisal emas. Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump sudah memastikan untuk mengucurkan stimulus ekonomi dengan nilai mencapai US$2 triliun. Namun pihak Gedung Putih hanya menanti persetujuan dari Kongres AS saja.

“Dengan begitu, maka pergerakan rupiah akan berada di rentang Rp16.300 per USD hingga Rp16.575 per USD,” tegas Ariston.

Ketimbang mata uang Asia lainnya, posisi rupiah paling perkasa bersama yen Jepang yang terapresiasi 0,51 persen, peso Filipina 0,31 persen, won Korea Selatan 0,29 persen, dan baht Thailand 0,14 persen.

Namun, beberapa mata uang Asia lainnya justru berada di zona merah. Yuan China melemah 0,7 persen, ringgit Malaysia minus 0,18 persen, dolar Singapura minus 0,09 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,03 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang negara maju justru melemah di hadapan USD. Dolar Australia melemah 1,3 persen, dolar Kanada minus 0,32 persen, poundsterling Inggris minus 0,31 persen, dan rubel Rusia minus 0,15 persen.

Hanya euro Eropa dan franc Swiss yang menguat dari mata uang Negeri Paman Sam itu, masing-masing 0,3 persen dan 0,23 persen.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar