Sebulan Ini, Indeks Terkoreksi 27,79%

Penulis Tomy Asyari

Jakarta, TopBusiness – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat perekonomian kian tertekan di tengah penyebaran wabah virus corona (covid-19) ini. Kendati secara umum, untuk stabilitas sektor jasa keuangan sampai Maret masih dalam kondisi terjaga dengan intermediasi di sektor ini masih membukukan kinerja positif, plus profil risikonya tetap terkendali.

Untuk itu, OJK senantiasa memantau perkembangan ekonomi global yang sangat dinamis dan berupaya untuk terus memitigasi potensi risiko yang ada terhadap kinerja sektor jasa keuangan domestik.

“Kondisi perekonomian global diperkirakan akan terkontraksi cukup dalam pada semester I-2020 dan mulai kembali pulih pada semester II-2020 seiring dengan wabah virus Corona yang terus meningkat, khususnya di luar Tiongkok,” ungkap Ketua Dewan Komisoner OJK, Wimboh Santoso dalam laporan stabilitas sektor jasa keuangan, di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Namun demikian, kata dia, pulihnya perekonomian global akan sangat bergantung pada berakhirnya wabah virus Corona di tataran global tersebut. Seperti perekonomian AS dan Eropa diprediksi akan terkontraksi pada kuartal II-2020 ini mengingat penyebaran virus Corona di AS dan Eropa baru akan mencapai puncaknya pada April dan Mei. Sementara perekonomian Tiongkok sendiri diprediksi telah membaik pada kuartal II-2020 ii, sejalan dengan mulai melambatnya penyebaran virus corona di Tiongkok itu.

“Besarnya sentimen negatif terkait penyebaran virus Corona baik secara global maupun perkembangan di Indonesia memengaruhi kinerja sektor jasa keuangan domestik, khususnya di pasar keuangan, baik pasar saham maupun SBN (Surat Berharga Negara),” jelas dia.

Sejak awal Maret 2020 sampai dengan 24 Maret 2020, investor nonresiden tercatat keluar dari pasar saham dan SBN masing-masing sebesar Rp6,11 triliun dan Rp98,28 triliun. Ini berdasar data Direjen Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 23 Maret 2020.

“Dengan kondisi tersebut, pasar saham pun melemah signifikan sebanyak 27,79% atau month to date (mtd) setara dengan 37,49% year to date (ytd) menjadi 3.937,6. Lalu diikuti dengan pelemahan di pasar SBN dengan yield yang rata-rata naik sebesar 118,8 bps mtd atau 95bps ytd,” terangnya.

Pelemahan ini, kata dia, disebabkan pada kekhawatiran investor terhadap virus Corona yang akan berdampak pada kinerja emiten di Indonesia.

Namun begitu, sejak awal tahun hingga 24 Maret 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal sudah mencapai Rp21,55 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada tahun ini terdapat 13 perusahaan, dengan pipeline penawaran sebanyak 61 emiten, dengan total indikasi penawaran sebesar Rp28,8 triliun.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar