OJK: Sektor Perbankan Masih Terjaga

Penulis Tomy Asyari

Jakarta, TopBusiness – Stabilitas sektor jasa keuangan, terutama perbankan disebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat terkendali. Beberapa indikator tersebut masih terlihat positif. Tercatat, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan selama Februari 2020 itu bergerak sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik.

Hal ini seperti disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam laporan stabilitas industri jasa keuangan, di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Menurut Wimboh, untuk laju kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,93% secara year on year (yoy). “Hal ini ditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 10,29% yoy. Sementara untuk sektor industri multifinance, mencatatkan piutang pembiayaan perusahaan leasing masih meningkat 2,82% (yoy),” ungkap Wimboh. 

Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan tersebut, kata dia, profil risiko masih terjaga dengan rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross sebesar 2,79% dengan NPL net di angka 1,00%. Sementara untuk rasio NPF perusahaan pembiayaan sebesar 2,66%.

Dari sisi penghimpunan dana, untuk pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih bertumbuh sebesar 6,80% secara yoy. “Ini berarti DPK-nya lebih tinggi dari pertumbuhan kredit,” tandas dia.

Selain itu, sepanjang Februari 2020 juga, OJK mencatat industri asuransi berhasil menghimpun premi sebesar Rp46,5triliun. Hal ini berarti masih tumbuh sebesar 4,73% secara yoy.

Pun demikian dengan risiko nilai tukar perbankan masih berada pada level yang rendah pada Februari 2020 itu. Hal ini tercatat dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,35%, yang berarti jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%. 

Sementara itu, dia menegaskan, untuk likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Seperti liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 212,30% dan 108,12%, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 100% dan 50%.

“Permodalan lembaga jasa keuangan itu masih terjaga stabil pada level yang tinggi. Untuk posisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan sebesar 22,42%. Sejalan dengan itu, Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing juga sebesar 670% dan 312%. Ini berarti jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%,” tandas Wimboh.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar