
Jakarta, businessnews.id — Produsen Kaos Jogger di Bali bisa menjadi contoh perusahaan start up ataupun keluarga yang sedari awal sudah memikirkan pentingnya perumusan nilai korporasi. Itu tidak seperti mayoritas perusahaan start up di Indonesia.
“Walhasil, Jogger terus eksis dan membesar sekalipun kompetitor yang meniru bermunculan,” kata Presiden Direktur Vanaya Institute, Lyra Puspa, dalam wawancara dengan BusinessNews Indonesia di Jakarta (2/1/2015).
Lyra menjelaskan, dalam hal itu, Jogger mirip dengan perusahaan teknologi informasi (TI) kelas dunia seperti Apple dan Microsoft. Dulu saat merintis berdirinya Apple, almarhum Steve Jobs pun sudah berpikir perihal nilai korporasi.
Jogger, dia menambahkan, dirintis dan berjalan berdasarkan nilai-nilai yang ada di sebuah keluarga. Dalam hal ini, bisnis tidak sekadar mengejar pendapatan, namun berdasarkan semacam kebersamaan sebuah keluarga. Dan justru dari situlah pertumbuhan bisnis lalu berlangsung.
“Sekalipun bisa saja diwaralabakan, pemilik Jogger tidak melakukan hal itu, bukan? Di sini, mereka terlihat tidak semata-mata memandang bisnisnya sebagai sebuah mesin pendapatan,” kata wanita berhijab tersebut.
Adakah contoh lain perusahaan keluarga lokal yang mirip dengan Jogger? Jawab Lyra, Keluarga Sosrodjojo dengan Teh Botol Sosro, juga sedari awal punya nilai-nilai perusahaan yang kuat.
“Kalau di bisnis media, saya rasa Majalah Tempo merupakan bisnis yang sedari awal punya nilai-nilai perusahaan yang kuat. Visi dan misi mereka jelas, tidak seperti umumnya perusahaan baru,” kata dia pula.
Penulis/Peliput: Dhi
Ed: Dhi