Jakarta, TopBusiness – Lembaga pemeringkat efek, PT Pefindo menegaskan peringkat “idAAA” untuk PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) serta Obligasi yang masih beredar, dan menegaskan peringkat “idAAA(sy)” atas Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I/2018 yang masih beredar.
Pada saat yang sama, menurut analis Adrian Noer dan Hendro Utomo, di Jakarta, hari ini, menyatakan bahwa Pefindo menegaskan peringkat “idAAA” untuk Obligasi Berkelanjutan II/2019 Tahap I Seri A senilai Rp224,0 miliar yang akan jatuh tempo pada 5 Juli 2020.
Pada 31 Desember 2019, SMI memiliki Rp13,8 triliun kas dan setara kas dan juga surat berharga untuk mendukung pembayaran obligasi jatuh tempo tersebut. Prospek atas peringkat Perusahaan adalah “stabil”.
Obligor berperingkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan oleh PEFINDO. Kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, relatif terhadap obligor Indonesia lainnya, adalah superior.
Peringkat atas Obligasi Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan hanya mencerminkan kemampuan Perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya atas efek utang ini, dan tidak berlaku atas tingkat sertifikasi wawasan lingkungan (green certification) dari efek utang ini. Jika terjadi penurunan tingkat sertifikasi wawasan lingkungan yang bisa berdampak pada percepatan pelunasan pokok dan/atau
kenaikan tingkat kupon atas surat utang ini sesuai ketentuan yang berlaku, maka Pefindo akan melakukan pemantauan terhadap peringkat yang sudah diberikan kepada SMI maupun efek utang yang diterbitkan.
Peringkat perusahaan mencerminkan status SMI sebagai entitas terkait pemerintah yang sangat penting, potensi pembiayaan infrastruktur yang sangat besar, profil permodalan yang sangat kuat, serta indikator likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat. Peringkat tersebut dibatasi oleh profil pembiayaan yang terkonsentrasi dan terbatasnya proyek infrastruktur yang siap untuk dibiayai.
Peringkat dapat diturunkan jika PEFINDO menilai ada penurunan tingkat dukungan pemerintah yang material, yang bisa disebabkan oleh profil bisnis dan kualitas aset SMI yang memburuk secara signifikan.
Pefindo melihat wabah COVID-19 akan memiliki dampak yang minimum bagi industri pembiayaan infrastruktur mengingat pentingnya infrastruktur bagi aktivitas ekonomi di Indonesia. Hal ini juga didukung dengan keputusan dari pemerintah untuk menjadikan infrastruktur sebagai salah satu sektor prioritas.
“Kami memperkirakan wabah ini akan memiliki dampak yang minimum pada profil kredit SMI, mempertimbangkan portofolio dari pembiayaan mereka yang kebanyakan berasal dari BUMN dan Pemerintah Daerah yang dalam penilaian kami memiliki risiko yang lebih baik atau rendah. Pefindo melihat segmen ini memiliki kemampuan yang kuat untuk mempertahankan kualitas kreditnya di tengah kondisi perlambatan ekonomi,” katanya.
Selain itu, kami juga mempertimbangkan kemampuan analisis dan kegiatan pemantauan yang ketat yang dilakukan oleh SMI akan mengurangi potensi pemburukan yang signifikan dalam profil bisnis dan keuangan mereka. Lebih jauh, beberapa portofolio pembiayaan SMI juga didukung oleh penjaminan dari pemerintah yang mengurangi ketidakpastian dari performa pembayaran angsuran.
Pefindo akan terus memantau dengan cermat kondisi-kondisi ini untuk menilai bagaimana perkembangan dampak dari COVID-19 ini, dan jika terjadi perubahan yang material kami akan melakukan tindakan penyesuaian peringkat jika diperlukan.
Foto: Istimewa
