TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Pemicu Laba Bersih United Tractors Anjlok 40%

Busthomi
27 April 2020 | 19:46
rubrik: Capital Market
Ini Pemicu Laba Bersih United Tractors Anjlok 40%

Jakarta, TopBusiness – PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan laporan keuangan konsolidasian untuk triwulan I tahun 2020. Tercatat perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp18,3 triliun atau turun sebesar 19% dibandingkan dengan triwulan I tahun 2019 sebesar Rp22,6 triliun.

Kondsii tersebut karena adanya perlambatan ekonomi global dan melemahnya harga batu bara, sehingga berdampak pada pasar domestik dan membawa tantangan bagi lini bisnis Perseroan. Ditambah adanya kerugian nilai tukar mata uang asing.

“Dengan begitu, membuat laba bersih yang dibukukan Perseroan juga turun sebanyak 40% menjadi Rp1,8 triliun dari sebelumnya sebesar Rp3,1 triliun di periode yang sama tahun lalu,” tutur Meyta Roida Rebecka Hutapea, Corporate Social Responsibility and Communication UNTR, dalam keterangan resmi yang diterima, di Jakarta, Senin (27/4/2020).

Dari capaian tersebut, masing-masing segmen usaha, yaitu: mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan emas dan industri konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 24%, 45%, 18%, 11% dan 3% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.

Untuk segmen usaha mesin konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 48% menjadi 617 unit, dibandingkan dengan 1.181 unit pada triwulan pertama tahun 2019. Penurunan tersebut disebabkan oleh melemahnya penjualan alat berat dari sektor pertambangan dan perkebunan.

“Sehingga pendapatan perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga turun sebesar 21% menjadi sebesar Rp1,7 triliun. Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai market leader alat berat, dengan pangsa pasar domestik sebesar 33%,” katanya.

Untuk penjualan UD Trucks mengalami penurunan dari 161 unit menjadi 73 unit, dan penjualan produk Scania turun dari 148 unit menjadi 64 unit. Penurunan penjualan UD Trucks dan Scania dikarenakan pengaruh penurunan harga batu bara dimana kedua produk tersebut banyak digunakan di sektor pertambangan.

BACA JUGA:   Perluas Layanan di Segmen Ritel hingga Akuisisi ISP, DATA Nyaris Serap Semua Capex Rp 1 Triliun

“Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha mesin konstruksi turun 36% menjadi sebesar Rp4,3 triliun dibandingkan Rp6,8 triliun pada periode yang sama tahun 2019,” katanya.

Sementara untuk segmen usaha kontraktor penambangan yang dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA), sampai dengan bulan Maret 2020, membukukan pendapatan bersih sebesar Rp8,2 triliun atau turun 14% dari Rp9,5 triliun pada periode yang sama pada tahun 2019.

PAMA juga mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 9% dari 30,6 juta ton menjadi 27,9 juta ton dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun 9% dari 234,3 juta bcm menjadi 212,2 juta bcm. 

Selanjutnya untuk segmen usaha pertambangan batu bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) hingga Maret 2020 total penjualan batu bara mencapai 3,2 juta ton. Termasuk di dalamnya 426 ribu ton batu bara kokas, atau meningkat 25% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 sebesar 2,5 juta ton.

“Namun demikian, pendapatan unit usaha pertambangan batubara turun 7% menjadi Rp3,4 triliun dikarenakan penurunan rata-rata harga jual batu bara,” ucap dia.

Untuk segmen usaha pertambangan yang dijalankan PT Agincourt Resources (PTAR) mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Hingga Maret 2020, total penjualan setara emas dari Martabe adalah sebanyak 95 ribu ons, atau turun 9% dibandingkan 104 ribu ons di triwulan I 2019, dengan pendapatan bersih sebesar Rp2,0 triliun.

“Rata-rata harga jual terealisasi untuk emas adalah US$ 1.448 per ons, dibandingkan US$ 1.306 per ons pada periode yang sama tahun 2019,” imbuh dia.

Sedangkan segmen usaha industri konstruksi yang dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACSET) hingga Maret 2020, ACST membukukan pendapatan bersih sebesar Rp475 miliar, turun dari sebelumnya sebesar Rp802 miliar secara yoy. ACSET juga mencatat rugi bersih sebesar Rp124 miliar dari sebelumnya rugi bersih sebesar Rp91 miliar pada periode yang sama tahun 2019.

BACA JUGA:   Semester I, Laba Bersih SMGR Melambung 26,3%

“Hal ini dikarenakan bertambahnya biaya atas keterlambatan proyek berjalan dan peningkatan biaya keuangan akibat mundurnya penerimaan pembayaran proyek contractor pre-financing (CPF),” kata dia.

Dan terakhir, segmen usaha energy yang dijalankan PT Bhumi Jati Power (BJP) dimana 25% sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Perseroan saat ini sedangmembangun pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah. Hingga triwulan I-2020, progres pembangunan konstruksi proyek ini telah mencapai 92% dan dijadwalkan akan memulai operasi secara komersial pada tahun 2021. BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha Perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.

Foto: Media Indonesia

Tags: kinerja keuanganUnited TractorsUNTR
Previous Post

IHSG Masih Bergerak Datar

Next Post

Prediksi IHSG Hari Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR