Jakarta, TopBusiness – Sejak berdiri tahun 2012, PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Magetan konsisen untuk terus mempersempit praktik rentenir melalui strategi jemput bola dengan memberikan kemudahan pinjaman kepada para pedagang di pasar-pasar tradisional.
Selain itu, untuk memajukan ekonomi daerah, selain dukungan pembiayan bagi bagi pelaku usaha, sejak tahun 2014 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini juga telah memberikan kontribusi kepada PAD yang terus meningkat setiap tahun yang hingga 2019, totalnya mencapai Rp2,55 miliar.
Seperti halnya yang dialami daerah-daerah lain di Tanah Air, praktik lintah darat alias rentenir di pasar-pasar tradisional juga banyak terjadi di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Magetan- Provinsi Jawa Timur. Tak hanya di pasar kota yang terdapat di 18 kecamatan yang ada di kabupaten dengan luas wilayah 688,85 km² ini, namun rentenir juga banyak menyasar para pedagang pasar tradisional hingga ke pelosok desa.
“Semula rentenir hanya menyasar para pedagang di pasar besar, namun belakangan juga banyak mendatangi pasar-pasar tradisional hingga ke pelosok desa. Mereka, menawarkan pinjaman dana atau modal secara cepat dan mudah. Namun dibalik itu, juga mengenakan bunga tinggi tinggi, sehingga bisa menjerat para pedagang pasar yang akhirnya sulit berkembang. Nah, praktik inilah yang sejak awal hingga kini, terus kami bendung dengan memberikan berbagai kemudahan,” ujar Direktur Utama BPRS Magetan, Endah Kundarti saat presentasi di Ajang Penjurian “TOP BUMD Awards 2020” yang dihelat Majalah TopBusiness Jakarta, melalui virtual conference pada (30/4) yang dipandu moderator M Lutfi Handayani selaku Ketua Penyelenggara TOP BUMD 2020, sekaligus Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah TopBusiness.
Dalam paparannya, Dirut Endah Kundarti menyatakan, agar tidak kalah cepat dengan gerak para rentenir, pihaknya juga menurunkan tim untuk proaktif melakukan jemput bola dengan mendatangi para pedagang di pasar-pasar tradisional. Dalam hal ini, juga disediakan produk pinjaman dengan cara yang sangat mudah, dan proses cepat dengan dukungan mobile pay yang online dengan sistem.
“Salah satu terobosan yang cukup membanggakan, Juni tahun lalu (2019) kami luncurkan pembiayaan Mutabarok Bunda Sejahtera (multiguna tanpa agunan) dengan akad Mudharabah bagi UMKM, pedagang pasar dan pedagang di luar pasar. Gratis biaya administrasi, asuransi dan materai, sehingga nasabah terima utuh. Prosesnya pun cepat, dalam waktu 2 jam, dana sudah bisa cair. Plafon Rp1- Rp 5 juta dengan jangka waktu pengembalian maksimal 10 bulan. Pembiayaan ini kami launching bulan Juni dan pada akhir tahun yang telah melayani 1001 nasabah dengan jumlah dana Rp 2 miliar dengan Rasio Non Performing Finance (NPF) 0 %,” papar Endah Kundarti.
Berkat terbosan program unggulan pembiayaan Mutabarok Bunda Sejahtera (MBS) ini, PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Magetan tahun lalu meraih penghargaan “Terbaik Kedua BUMD Award 2019 kategori BPR Kabupaten/kota se-Jawa Timur yang diakan Pemprov Jawa Timur. “Ini termasuk prestasi yang membanggakan bagi kami bersama tim. Program yang difokuskan kepada pelaku UMKM ini masuk penilaian utama. Melalui produk pembiayaan ini, secara tidak langsung kami telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Magetan sehingga angka kemiskinan akhir tahun 2019 telah berkurang cukup baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, juga disampaikan berbagai pencapaian dan kinerja usaha yang juga terus meningkat. Misalnya pada tahun 2019, BPRS berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga sebesar Rp 21,5 miliar naik 44,92% dari tahun sebelumnya sebesar Rp14,8 miliar. Begitu juga kinerja pembiayaan juga meningkat, di mana pada tahun lalu terealisasi Rp24,8 miliar atau tumbuh 30,27% dari tahun sebelunya sebesar Rp19,1 miliar.
Begitu pula dari sisi usaha, perusahaan juga bisa meraih laba yang juga terus meningkat, di mana laba setelah pajak & zakat pada tahun 2018 sebesar Rp1,4 miliar dan tahun 2019 terealisasi Rp1,7 miliar atau naik 16,43%. Dengan kinerja ini, PT. BPRS Magetan sejak tahun 2014 juga telah memberikan kontribusi kepada PAD yang an meningkat tiap tahun cukup signifikan yang totalnya mencapai Rp 2,55 miliar. “Setiap tahun bisa terus meningkat, tahun lalu kontribusi ke PAD sebesar Rp913 juta, naik dari tahun sebelumnya sekitar Rp700 juta,” ujarnya di hadapan enam juri.
Selain M Lutfi Handayani, anggota dewan juri lain di antaranya Prof Laode M. Kamaludian, Ermon Idrus, Totok Sediyantoro (dari Lembaga Kajian Nawacita (LKN), Been De Haan, Sentot Baskoro (TopBusiness). “Saya sangat mengapresiasi langkah BPRS Magetan ini dalam memerangi praktik rentenir, karena keberhasilan dalam menekan praktik lintah darat, ini termasuk menjadi kontribusi yang sangat berarti.
Sebagai BUMD milik Pemerintah Daerah Kabupaten Magetan, kontribusi tidak harus selalu pemasukan PAD, namun keberhasilan memberantas rentenir dengan pembiayaan yang bisa memajukan ekonomi masyarakat, ini termasuk kontribusi luar biasa. Karena itu, saya sarankan agar ke depan bisa terus diperkuat dengan dukungan sistem IT. Misalnya membuat data base digital menganai berapa jumlah pedagang dan aktivitas bisnisnya, termasuk kebutuhan pinjaman, sehingga mudah dipetakan, Dangan kemudahan yang sama apalagi ada nilai plus, otomatis rentenir akan tersingkir,” ujar Prof Laode M Kamaluddin saat sesi nilai tambah.
Penulis: Ahmad Churi

Jk mmbaca tulisan diatas, bhwa nsabah bbs biaya adm, nmun knp ada sbagian nsbah yg masih dipungut biaya adm, dgn pinjaman diatas 10 juta dgn jaminan bpkb kndaraan, mohon pnjelasan trimksih