Jakarta, TopBusiness – PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) mencatatkan kinerja fluktuatif sepanjang 2019 lalu. Tercatat, perseroan berhasil membukukan pendapatan yang naik signifikan hingga 650% secara tahunan (year on year) dibanding 2018 lalu. Dari hanya Rp11,28 miliar menjadi Rp84,5 miliar. Pertumbuhan pendapatan yang positif ini terutama didorong oleh kinerja yang kuat dari bisnis perhotelan, yang menyumbang sekitar 96% dari pendapatan konsolidasi perusahaan.
“Pendapatan segmen hotel di 2019 lalu naik sekitar 12x lipat secara yoy. Hal ini didukung oleh kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tingkat hunian rata-rata sekitar 70% di seluruh jaringan hotel Perseroan,” demikian seperti disebutkan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (4/5/2020).
Sebagai catatan penting, perusahaan saat ini mengoperasikan tiga hotel, yaitu Swiss-Belhotel Bogor, Swiss-Belinn Gajah Mada Medan, dan Hotel Saka Medan. Ketiga hotel ini diakuisisi oleh perseroan pada tahun 2018. Langkah strategis ini diambil oleh manajemen Perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha dengan menambah lini bisnis yang berbeda, untuk mengurangi risiko usaha dalam menopang pertumbuhan Perseroan serta menciptakan sinergi dengan lini bisnis lainnya untuk jangka panjang.
Selain itu, melalui anak usahanya PT Internusa Keramik Alamasri, produsen ubin porselen dengan merek ‘Essenza’ mencatatkan pendapatan unit bisnis Pporcelain tile sebesar Rp3,36 miliar pada 2019 atau turun dari tahun sebelumnya di angka Rp4,57 miliar. “Nilai penjualan keramik yang lebih rendah ini bersifat sementara, mengingat hal ini disebabkan oleh fokus perusahaan untuk melakukan peremajaan mesin produksi untuk memaksimalkan kapasitasnya,” katanya.
IKAI sendiri berencana meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap sebesar 1,2 juta meter persegi per tahun, hingga mencapai kapasitas penuh sebesar 6,2 juta meter persegi setiap tahunnya. IKAI juga telah menerapkan sistem otomasi baik dalam produksi keramik dan proses pengemasannya dalam upaya untuk mempertahankan efisiensi biaya dan meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang.
Pada level Laba Kotor, perusahaan telah membukukan pertumbuhan tahunan yang luar biasa sebesar 977,8% menjadi Rp61,91 miliar. Namun begitu, sehubungan dengan profitabilitas, IKAI membukukan rugi bersih sebesar Rp71,72 miliar pada 2019, dibandingkan dengan laba bersih 2018 sebesar Rp71,28 miliar.
“Akan tetapi, penurunan profitabilitas terkait dengan strategi ekspansi perusahaan dalam melakukan penguatan bisnis yang telah dimulai sejak akhir 2018. Dengan demikian, perusahaan tetap optimis untuk meningkatkan profil profitabilitas karena inisiatif pengembangan bisnis yang solid akan menghasilkan pertumbuhan yang positif,” katanya.
Untuk aset perseroan per akhir 2019 itu mencapai Rp1,357 triliun, sedangkan total liabilitasnya sebesar Rp440,98 miliar. Sedang ekuitas perusahaan sebanyak Rp916,55 miliar. Namun pada sisi leverage, perusahaan menunjukkan profil neraca yang sehat. Current Ratio mengalami peningkatan menjadi 0,79x selama 2019 dibandingkan dengan 0,47x (yoy). Dengan net debts/equities mencapai 0,27x di 2019 atau lebih rendah dari 0,34x (yoy). Selama 2019, perusahaan telah mencatat asset/equity yang lebih rendah 1,48x dibandingkan dengan 1,68x pada 2018.
Untuk outlook 2020 ini, di tengah pandemi Covid-19, IKAI telah menerapkan langkah-langkah keamanan yang ketat di seluruh unit bisnisnya. Perusahaan bertujuan untuk mempertahankan operasinya, sementara mendukung protokol kesehatan pemerintah demi kepentingan menahan laju penyebaran pandemi pada saat yang sama.
“Kami telah melakukan penilaian dampak pandemi ini terhadap operasional perusahaan dan oleh karena itu kami akan lebih fokus pada peningkatan efisiensi dan ketahanan sebagai strategi penanggulangan terhadap situasi ini. Langkah penyesuaian, jika dibutuhkan akan dilakukan terhadap rencana bisnis kami sebagai tanggapan kami untuk menghadapi situasi ini,” tandasnya.
Foto: istimewa
