Jakarta, TopBusiness – Bank Indonesia atau BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan meningkat di tahun depan menjadi 5,2 persen, didorong dampak positif kebijakan yang ditempuh banyak negara dan faktor base effect.
Selanjutnya, kondisi ketidakpastian pasar keuangan global mulai mereda.
“Sementara itu, kondisi ini secara perlahan mendorong mulai berkurangnya intensitas aliran modal ke luar dari negara berkembang dan kemudian diikuti menurunnya tekanan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia,” Direktur Eksekuti-Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko dalam laman bi.go.id, di Jakarta.
Pandemi Covid-19 menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia, sementara pengaruhnya terhadap ketidakpastian pasar keuangan dunia mulai mereda. Sejalan meluasnya pandemi dan disertai berbagai upaya penanggulangan pembatasan aktivitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2020 di banyak negara di dunia menurun tajam.
Pertumbuhan ekonomi seperti di Tiongkok, Eropa, Jepang, Singapura, dan Filipina mengalami kontraksi di triwulan I-2020, sementara pertumbuhan ekonomi AS turun dalam menjadi 0,3%.
Perkembangan April 2020 menunjukkan risiko resesi ekonomi global tetap besar tercermin pada kontraksi berbagai indikator dini seperti kinerja sektor manufaktur dan jasa serta keyakinan konsumen dan bisnis. Perkembangan ini mengakibatkan volume perdagangan dunia mengalami kontraksi dan diikuti menurunnya harga komoditas dan harga minyak.
“Dengan proyeksi kontraksi ekonomi berlanjut sampai dengan triwulan III-2020, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi global 2020 mencatat pertumbuhan negatif 2,2%,” pungkasnya.
Foto: Rendy MR
